• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • Maret 2014
    S S R K J S M
    « Nov    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Meta

  • Kajian Salaf

Dukun tidak tahu Ilmu dan alam ghaib

Soal:
Umumnya para dukun yang kami ketahui, mereka mampu mengetahui kejadian-kejadian yang akan datang (seperti siapa yang bakal keluar menjadi kepala desa, membongkar pelaku pencurian, serta kejadian-kejadian lain yang bakal menimpa). Pertanyaannya, apa benar dukun-dukun dan para tukang ramal itu mengetahui ilmu ghaib? Bagaimana pandangan syariat terhadap ilmu yang dimiliki dukun tersebut, dan bagaimana pula hokum mendatangi dukun? (Hamba Allah).

Jawab:
Kami katakan kepada para dukun dan pada setiap orang yang mengaku mampu mengetahui ilmu ghaib, “Cis, sekali-sekali kamu tidak akan melampaui batas kemampuanmua sendiri!” (Ini adalah ucapan Nabi SAW kepada Ibnu Shayyad Al-Yahudi yang mengaku dirinya pandai meramal dan mengaku sebagai seorang Nabi, Lihat HR. Al-Bukhari 1355).
Dan kami katakan kepada setiap orang yang lemah imannya, yang mengadukan urusannya kepada dukun dan tukang ramal, yang tertipu dengan ungkapan dusta keduanya, “Bukalah mata dan pendengaranmu baik-baik, bahwa tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi ini yang mengetahui perkara ghaib melainkan Allah semata”

Ilmu Ghaib Hanya Untuk Allah
Ilmu Ghaib hanya milik Allah. Malaikat, Jin, Nabi dan para wali-wali Allah tidak mengetahui Ilmu Ghaib. Allah berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Artinya: “Katakanlah: tidak ada seoragpun dilangit dan dibumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml 65).

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Namun terkadang, Allah memperlihatkan apa yang dikehendaki-Nya untuk suatu hikmah dan kemaslahatan. (QS. Al-Jin 26-27).

Malaikat Tidak Mengetahui Yang Ghaib

Malaikat tidak mengetahui yang ghaib, dalil yang menunjukkan demikian adalah firman Allah, (Artinya: “Dan Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman; ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang benar’, Mereka (para malaikat) menjawab; ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau telah ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Al-Baqarah 31-32).
Jika para malaikat tahu ilmu ghaib, maka pastilah mereka bisa menjawab benda-benda yang Allah perintah kepada mereka untuk menyebutnya.

Jin Tidak Mengetahui Yang Ghaib

Jin tidak mengetahui yang ghaib, dengan dalil ketidakmampuan jin mengetahui kematian nabi Sulaiman. Allah berfirman:
Artinya: “Maka tatkala kami telah menetapkan kepada mereka (para jin) kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu, bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”.
Para jin pernah bekerja untuk Nabi Sulaiman. Dimana mereka membuat apa saja yang dikehendaki oleh Sulaiman berupa gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besar seperti kolam, dll. Pernah para jin itu bekerja langsung dibawah pengawasan Nabi Sulaiman dimana ketika itu beliau bersandar pada tongkatnya. Ketika dalam pengawasan itu (dalam keadaan berdiri sambil bersandar pada tongkatnya) Allah mencabut ruh Nabi Sulaiman. Para Jin tidak mengetahui akan kematian Nabi Sulaiman, mereka tetap bekerja keras tanpa mengenal istirahat lantaran takut dengan Nabi Sulaiman. Hingga kemudian Allah mengutus rayap-rayap untuk memakan tongkat Sulaiman. Ketika Nabi Sulaiman tersungkur, barulah jin-jin itu tahu bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal.

Nabi Tidak Mengetahui Yang Ghaib:
Para Nabi tidak mengetahui yang ghaib. Malaikat pernah mendatangi Nabi Ibrahim dan Nabi Luth dalam bentuk manusia. Kedua Nabi tersebut tidak mengetahui bahwa yang datang itu adalah malaikat. Adapun Ibrahim, ketika menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang kepada tamunya dan tamu tersebut tidak mau menyentuh sedikitpun dari makanan itu, maka muncullah rasa takut Nabi Ibrahim. Lalu tamu (malaikat) itu berkata, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” (QS. Hud 70).

Sedang Luth ketika didatangi oleh kaumnya dan mereka menghendaki para tamu yang ada dirumah Luth. Luth berkata kepada kaumnya, “Seandainya aku ada kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan). Lalu tamu-tamu itu berkata, ‘Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu (malaikat). Sekali-sekali mereka tidak dapat mengganggumu’.” (QS. Hud 80-81).
Andai para Nabi itu mengetahui yang ghaib, tentulah mereka mengenal siapa jati diri tamu itu sebenarnya, yaitu malaikat.

Para Wali Tidak Mengetahui Yang Ghaib
Para wali tidak mengetahui yang ghaib. Aisyah dan ayahnya, Abu Bakar Ra. adalah seutama-utama wali Allah. Namun ketika terjadi fitnah perselingkuhan yang menimpa ‘Aisyah atau dikenal dengan ‘Haditsul Ifki’, Aisyah tidak tahu menahu tentang desas-desus berita tersebut hingga diberitahukan oleh Ummu Misthah. Begitu juga Abu Bakar, ia tidak dapat mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya sehingga turun wahyu kepada Rasulullah SAW mengenai pembebasan Aisyah dari tuduhan yang mengada-ada itu.

Dukun Tahu Yang Ghaib
Dibumi manakah dukun itu berpijak dan langit apakah yang menaunginya atau dari jenis golongan apakah dukun itu, hingga ia mengakui dan didaulat oleh orang-orang yang lemah iman bahwa ia mengetahui yang ghaib?! Jika bahan dasarnya tercipta dari tanah, maka makhluk yang mencapai tingkat predikat ‘Nabi’ pun tidak mengetahui yang ghaib. Jika bahan dasarnya dari api, maka makhluk sejahat iblis (syaithan) pun tidak mengetahui yang ghaib, dan jika bahan dasarnya dari cahaya maka makhluk Allah yang bernama malaikat juga tidak mengetahui yang ghaib.
Dukun hanyalah seorang pembual, menipu orang-orang dengan tipu daya dan permainan sihirnya, ia sering bersumpah dengan kebodohan. Jikapun mulutnya berkomat-kamit membaca Al-Qur’an atau ragam sholawatan maka ia hanya berpura-pura untuk lebih meyakinkan para mangsanya.

Ucapannya Terkadang Benar?
Tidak perlu heran dengan keterangan para dukun dan tukang ramal yang terkadang perkataannya berbetulan dengan kenyataan, karena pengakuan mereka tentang yang ghaib, merupakan bisikan syaithan. Kesemuanya itu didapatkan melalui permohonan bantuan setan-setan yang mencuri dengar dari langit. Mereka mencuri kalimat dari ucapan Malaikat, lalu disampaikan ketelinga dukun, dan dukun tersebut berbohong dari kalimat (yang diterimanya itu) dengan seratus kali kebohongan. Lalu orang-orang mempercayainya disebabkan oleh satu kalimat yang benar tersebut yang didengar oleh setan dari langit. Karenanya, dukun dan tukang ramal seringkali memberikan keterangan yang sulit dimengerti, tidak jelas dan banyak mengandung kemungkinan.

Haram Mendatangi Dukun Dan Tukang Ramal

Rasulullah SAW melarang keras mendatangi dukun dan tukang ramal. Rasulullah SAW bersabda tentang orang yang mendatangi dukun:

Artinya: ‘Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW’. (Shahih. HR. Abu Dawud 4904, An-Nasai dalam Al-Kubra, At-Tirmidzi 135, Ibnu Majah 639 dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Al-Irwa’ 2006).
Sedang bahaya mendatangi tukang ramal, adalah sabda Rasulullah SAW:
‘Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari’. (HR. Muslim 2230).

4 Tanggapan

  1. Saya sangat tertarik dengan apa yang telah dipaparkan diatas yaitu mengenai “Dukun tidak tahu mengenai ilmu dan alam ghoib”, namun walaupun alasan, dalil, pendapat sudah jelas dan disampaikan secara gamblang, namun tetap saja masih banyak orang yang sangat percaya terhadap dukun bahkan berulang-ulang mendatanginya. Pertanyaan saya bagaimana memberikan pengertian kepada mereka supaya mereka mengerti tentang hukum bahwa ia telah kafir bila mendatangi dukun, tukang ramal dan tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari, sungguh itu merupakan suatu konsekuensi yang sangat berat. terima kasih

  2. mas Mochamad Daryana, S.sos.:
    Jawabannya tentu ini adalah tugas kita bersama untuk terus mendakwahi dengan sabar (istiqomah).-
    Terimakasih atas kepeduliannya.

  3. menarik sekali ulasannya, tetapi bagaimana dengan yang tercantum dalam Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 269? Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

    Ilmu hikmah adalah pemahaman dari Allah, bukankah ini juga Ghaib? semua tergantung niat yang baik, selama niatnya menari ridho Allah, kenapa tidak? Insyaallah, Allah akan memberikan petunjuk kepada hamba yang memohon kepada-Nya, termasuk mencari barang hilang tersebut.

  4. […] Adapun Luth ketika didatangi oleh kaumnya dan mereka menghendaki para tamu yang ada dirumah Luth. Luth berkata kepada kaumnya, “Seandainya aku ada kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan). Lalu tamu-tamu itu berkata, ‘Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu (malaikat). Sekali-sekali mereka tidak dapat mengganggumu’.” (QS. Hud 80-81). Andai para Nabi itu mengetahui yang ghaib, tentulah mereka mengenal siapa jati diri tamu itu sebenarnya, yaitu malaikat. (https://alikhlash.wordpress.com/2012/11/07/dukun-tidak-tahu-ilmu-dan-alam-ghaib/) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: