• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • Februari 2010
    S S R K J S M
    « Agu   Mar »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • Meta

  • Kajian Salaf

Maulid Nabi

Soal: Apa hukum menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam dengan perayaan yang ala kadarnya seperti halnya berkumpul-kumpul untuk sekedar mendengar siroh [perjalanan hidup] Nabi, lalu sebagai penutup diadakan acara makan-makan, dan apakah benar bahwa tidak bermaulid tidak cinta Nabi Shalallâhu’ alaihi wasallam?

Jawab:
Ibnu Khalqan salah seorang sejarawan ternama, menyebutkan bahwa orang yang pertama kali merintis acara peringatan Maulid Nabi adalah Malik Al-Muzaffaruddin Al-Arbaly At-Turkumâny (salah seorang bawahan Sulthan Shalahuddin Al-Ayyubi). Hal itu terjadi pada awal abad ke-7 Hijiriah.
Tentang bagaimana suasana upacara maulid perdana pada masa itu, Ibnu Khalqan yang menyaksikan sendiri acara tersebut berkata: “….Seremoni itu dimulai pada malam Maulid (8 Rabi’ul Awwal), dengan membawa sejumlah onta, sapi, dan kambing dengan diiringi tabuhan kendang dan lagu-lagu kasidahan, sedang rakyat berada di belakangnya membawa panji-panji, seruling dan pekikan meriah, hingga ternak disembelih dan dagingnya dihidangkan dalam acara itu… para Sufi pun membawakan berbagai nyanyian unik, menari berputar-putar hingga seolah terbius tak sadarkan diri”. [Lihat Maqâsidul Islam, oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz dan Rijâlun min Al-Tarikh, oleh Syaikh Ali Thanthawi].
Persaksian Ibnu Khalqan di atas, memberi pesan kepada kita semua bahwa peringatan maulid bukanlah ibadah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam, para  shahabat Rasullullah Radhiyallahu ‘Anhum , dan juga para tabiut tabi’in Rahimahumullahu Ta’ala; yang mana mereka adalah generasi terbaik yang lebih mengerti sunnah, lebih mencintai Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam, dan lebih mengikuti syari’at daripada generasi setelahnya.
Ketahuilah, bahwa sesuatu yang baru dalam urusan agama (bid’ah) baik itu yang berkaitan dengan ibadah mahdhah atau hanya sekedar dijadikan sebagai syi’ar-syi’ar keagamaan adalah terlarang. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Artinya: “Barangsiapa mengada-adakan (sesuatu hal yang baru) dalam urusan (agama) kami, yang bukan merupakan ajarannya, maka akan ditolak.” [Muttafaqun ‘Alaihi].

Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Artinya: “Dan jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah tempatnya di neraka .” [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi].

Peringatan maulid bukanlah urusan keduniaan semata sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang. Tetapi, maulid besar kaitannya dengan urusan ibadah. Lihatlah bagaimana praktek maulid yang umumnya terjadi di tengah masyarakat kita, membaca riwayat hidup Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang tertulis dalam bahasa Arab, dibaca dengan lagu-lagu bahkan tidak jarang diiringi dengan rebana, hingga ketika riwayat Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan para hadirin pun berdiri secara serempak membaca syair-syair pujian. Para hadirin berdiri lantaran mereka meyakini bahwa ruh Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam datang pada acara tersebut, sesudah itu diakhiri dengan makan-makan, umumnya dengan buah-buahan.
Tata cara serta keyakinan di atas, adalah tata cara yang teramat jauh dari kebenaran. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan mungkin hadir dalam acara tersebut, Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari Qiyamat, sedang ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi, tempat kemuliaan, di sisi tuhannya. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Artinya: “Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur pada hari Qiyamat nanti, aku adalah orang yang pertama kali memberi syafaat dan orang yang pertama kali diterima syafaatnya.” [Shahih. Lihat Tahzir Minal Bid’ah, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz].

Dan juga sewaktu hidupnya, Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam tidak suka disambut oleh shahabat-shahabatnya dengan berdiri. Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Artinya: “Janganlah kalian berdiri (memberi penghormatan) kepadaku, sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri menghormati antara satu dengan yang lainnya.

Lalu mengapa orang-orang itu berani melakukannya ketika Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam telah wafat? Bukankah ini adalah bentuk pelanggaran terhadap sunnah?

Maulid Bebas Bid’ah ?
Jika acara maulid diselenggarakan bebas dari hal-hal yang bid’ah, artinya tidak ada acara musik, tari-tarian, tidak berdiri menyambut ruh Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi hanya sekedar berkumpul mendengar wejangan tentang perihal kehidupan Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam apakah diizinkan oleh agama?
Ibnul Hâj Al-Mâliky (salah seorang ulama yang banyak dipuji oleh ulama termasuk di antaranya Al-Hafidz Ibnu Hajar) dalam kitabnya Al-Madkhal berkata: “… Apabila pada acara maulid tersebut tidak mengandung unsur-unsur bid’ah dan hal-hal yang diharamkan dan hanya terbatas pada penyajian makanan sebagai hidangan untuk para tetamu/ undangan namun kaitannya (niatnya) dalam rangka maulid, maka hal tersebut juga adalah bid’ah, bid’ah lantaran niatnya. Karena hal itu adalah bentuk penambahan di dalam agama dan bukan amalan dari para shalafus-shalih….” [Lihat Maqâsidul Islam, oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz hal. 220].

Maulid Sontekan dari Agama Lain ?
Di samping peringatan maulid tidak memiliki pijakan dalil, peringatan maulid juga masuk dalam lingkup tasyabbuh (penyerupaan) dengan agama lain. Bukankah orang-orang Nashrani mengagungkan tanggal 25 bulan 12 sebagai peringatan hari kelahiran Isa ‘Alaihissalam, bukankah orang-orang Hindu juga memiliki satu hari yang diagungkan dalam setahun untuk memperingati hari kelahiran pendiri agamanya? Dalam hal ini, Rasulullah Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Artinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [HR. Ahmad].

Tidak Maulid-an Tidak Cinta Nabi ?
Justru sebaliknya, orang yang tidak ikut maulidan adalah orang yang mencintai Nabi-nya.  Bukankah bentuk mencintai Rasul adalah dengan mengikuti perbuatan dan perkataannya? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “…Sesungguhnya kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadap Rasul adalah ber-ittiba’ (mengikuti jejaknya), taat padanya, menjalankan perintahnya…” [Iqtidha’ Shirâthal Mustaqim 2/122].

2 Tanggapan

  1. assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

    menurut saya pemerintah juga harus ambil andil untuk tuturkan kebanaran seperti ini……….tapi gimana,……………malah pemerintah kita bikin panitia smpai di tingkat pusta……………..

    sumhaanallaah

    • Assalaamu’alaikum yaa ustadz,
      Menurut hemat saya, tidaklah bijaksana jika mengantisipasi masalah maulid nabi pemaparannya tidak mengajak para ulama yang posisinya atau jam terbangnya jauh sebelum ulama sekarang atau ulama-ulama yang dijadikan sebagai referensi ustadz. Ulama manakah yang akan kita jadikan sebagai pewaris para nabi. Bentuk implementasi cinta kepada ajaran-ajaran Rasulullah boleh saja berbeda-beda. Kadang ia dekat dengan bid’ah yang masih diperdebatkan definisinya oleh para ulama yang masing-masing berbeda jam terbangnya. Dan yang sejujurnya, bahwa ulama yang hidup setelah era para sahabat, juga bisa kita kategorikan sebagai muqallid atau pen-taqlid. Jastifikasi yang serampangan bukan malah membuah hikmah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: