• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • Februari 2009
    S S R K J S M
    « Jan   Mei »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    232425262728  
  • Meta

  • Kajian Salaf

Meminum Ramuan Al-Qur’an

Soal: Menulis ayat-ayat Al-Qur’an di lembaran kertas, lalu digantungkan pada bagian tertentu dari tubuh orang yang sakit  atau tulisan itu dihapus dengan air lalu diminumkan atau dipercikkan kepadanya, apakah hal itu dibolehkan? Cara seperti ini banyak dilakukan pada wanita yang hendak melahirkan. Harap dijelaskan.

[Dua penanya: Jember dan Ambulu]

Jawab :

Diantara bentuk penyimpangan yang  banyak dilakukan oleh kaum muslimin saat ini adalah memberlakukan Al-Qur’an tidak sebagaimana mestinya seperti yang diperbuat oleh generasi-generasi awal dari kaum muslimin. Al-Qur’an yang sejatinya dijadikan sebagai kitab petunjuk dan hidayah malah dijadikan sebagai bahan untuk memikul kesesatan dan keburukan. Al-Qur’an dijadikan oleh Allah sebagai jalan untuk menyelamatkan manusia dari ragam takhayyul dan khurafat namun sebagian manusia membalikkan permasalahan ini dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan menuju takhayyul dan khurafat.  Lihatlah Al-Qur’an dibaca untuk  kepentingan orang-orang yang telah meninggal, Al-Qur’an dibaca di atas makam, memperdebatkan Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan popularitas diri, meminta-minta di jalanan sambil membaca ayat Al-Qur’an, wanita melantunkan Al-Qur’an dihadapan kaum lelaki pada acara-acara walimahan, menebak nasib dari Al-Qur’an, menghias makam dengan tulisan-tulisan Al-Qur’an,  Al-Qur’an dijadikan sebagai jimat, serta cara-cara lainnya yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Mereka melakukan semua itu atas dasar ketidak pahaman mereka terhadap urusan agama yang hanif ini atau karena fanatisme buta terhadap tokoh-tokoh tertentu yang menurut mereka tidak akan pernah tersalah dalam urusan agama.

AL-QUR’AN SEBAGAI RAMUAN

Bahkan yang lebih menakjubkan lagi adalah perbuatan sebagian orang yang menulis ayat Al-Qur’an didalam sebuah wadah atau tempayan lalu tulisan tersebut dihapus dengan air, kemudian orang yang sakit diperintahkan untuk meminumnya, atau ayat tersebut ditulis di atas potongan kertas berukuran kecil lalu dilipat-lipat hingga menjadi seperti kapsul kemudian si sakit diperintahkan untuk menelannya, atau potongan kertas tadi dibakar lalu si sakit diperintahkan untuk menghirup asapnya secara berulang-ulang, atau dibungkus dengan kain lalu digantung ditempat tertentu ditubuh si sakit.

Ketahuilah, cara-cara pengobatan seperti ini adalah bid’ah yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syariat Islam, bahkan merupakan suatu bentuk penghinaan pada Al-Qur’an. Ia dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa lemah yang mencari penghidupan duniawi melalui Al-Qur’an. Perbuatan mereka hanya merusak akal orang-orang yang sama berjiwa lemah dengannya, memalingkan dari jalan berobat yang benar, dan merubah sunnatullah dalam sebab dan musabab.

CARA MUDAH MELAHIRKAN

Melahirkan adalah saat-saat kesengsaraan dan kelelahan bagi wanita. Pada saat seperti itu sang wanita mesti berserah diri kepada Allah dan banyak-banyak meminta pertolongan kepada-Nya agar Ia meringankan keseng-saraannya dan memudahkan kelahiran anaknya. Ia harus yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan rasa sakit nya sewaktu ia melahirkan.

Bagi keluarga [khususnya suami] sudah selayaknya ikut membantu meringankan penderitaan sang istri disaat persalinannya itu apakah dengan memberikan dukungan moril kepadanya, mendoakannya atau memberikan arahan-arahan yang bermanfaat untuknya bukannya malah menambah beban sang istri dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai oleh agama ini seperti membacakan ayat-ayat tertentu dari Al-Qur’an – seperti beberapa ayat dari surat Al-A’râf, Al-Ahqâf, dan An-Nâzi’at- untuk sang istri, atau menulisnya lalu dikalungkan padanya, atau menulisnya lalu dihapus dengan air dan diminumkan kepadanya atau dibasuhkan  pada perut dan farjinya.

PIJAKAN YANG LEMAH

Mereka [suami, ibu, bapak, kiyai dan dukun beranak] bukan tidak berdalil atas perbuatan yang mereka lakukan tetapi dalil yang mereka jadikan sebagai pijakan dalam menetapkan bahwa pengobatan cara seperti itu kepada orang yang hendak melahirkan dibenarkan atau diakui oleh syariat adalah lemah dan palsu. Berikut dalil – dalil yang mereka jadikan sebagai pijakan sekaligus bantahannya :

1. Bahwa Fathimah Radhiyallahu Anha tatkala menjelang persalinan, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam memerintahkan ummu Salamah dan Zaenab binti Jahsy untuk mendatanginya dan membacakan padanya ayat kursi dan surat Al-A’raf ayat 54-56, dan agar keduanya memintakan perlindungan untuknya dengan membaca surat Al-Mu’awwidzatain.’ Kami katakan, ‘Hadits ini adalah hadits palsu. Diriwayatkan oleh Ibnu As-Sunni 620. Dan dalam sanadnya ada seorang pemalsu hadits dan dua rawinya yang lain adalah matruk [tertuduh berdusta].

2. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Apabila seorang wanita sulit melahirkan, maka hendaklah ia mengambil sebuah bejana kecil yang ia tulis padanya; ‘Ka-annahum Yauma Tarauna…’ [surat Al-Ahqâf ayat 35], dan ‘Ka-annahum Yauma Yaraunaha…'[surat An-Nâzi’at ayat 46], dan ‘Laqad Kâna fi Qishashihim…'[surat Yusuf ayat 111]. Kemudian bejana itu dicuci. Dan hendaklah ia memberi minum wanita itu dengannya, dan memerciki perut dan farjinya.’ Kami katakan, ‘Hadits ini adalah hadits lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu As-Sunni 619. Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Ibnu Abi Laila dan Abdullah bin Muhammad bin Al-Mughirah. Ibnu Abi Laila sangat jelek hafalannya sedang Abdullah bin Muhammad tidaklah kuat seperti yang dikatakan oleh Abu Hâtim.

Dengan demikian semua hadits yang di sandar-

kan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengenai pengobatan dengan penulisan Al-Qur’an disuatu wadah lalu meminum airnya adalah sangat lemah atau palsu. Sedang atsar shahabat yang juga menyebutkan tentang itu adalah lemah. Adapun jika ada dari salaf [orang-orang terdahulu] yang mengamalkan cara pengobatan diatas maka ketahuilah bahwa dalil-dalil yang mereka gunakan bukanlah dari hadits-hadits dan atsar-atsar yang shahih melainkan hadits dan atsar yang lemah.

KESIMPULAN

Tidak diperbolehkan menulis ayat-ayat Al-Qur’an di lembaran kertas, lalu digantungkan pada bagian tertentu dari tubuh orang yang sakit  atau tulisan itu dihapus dengan air lalu diminumkan atau dipercikkan kepadanya.

Adapun meruqyah [menjampi] wanita yang sulit melahirkan sesuai dengan aturan-aturan syariat [tidak seperti dengan tata cara yang kami sebutkan sebelumnya] maka hal tersebut dibolehkan karena ia tidak berbeda dengan orang sakit lainnya. Dimana orang sakit boleh di ruqyah. Wallahu A’lam Bish Shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: