• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • Januari 2009
    S S R K J S M
    « Okt   Feb »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Meta

  • Kajian Salaf

Valentine’s Day

Soal: Sebentar lagi (pada tanggal 14 Pebruari) adalah hari Valentine. Apa hukum mengikuti dan memeriahkan hari itu bagi remaja muslim? haramkah ataukah halal? (0898040xxx)

Jawab :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah“(QS: Ali Imrân 28)

Diantara salah salah satu makna dari perwalian adalah Al-Mutâba’ah yaitu mengikuti. Sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam; “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk diantara mereka” (HR. Abu Dawud 4031, Ahmad 2/92,50. Dishahihkan Al-Bany dalam Al-Irwâ’ 1269).

Seorang muslim akan senantiasa berupaya mencontoh dan menyerupai petunjuk Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam baik yang dhahir/ bathin, begitu juga kepada para shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum dan apa-apa yang ditempuh oleh kaum mukminin. Adapun menyerupai tindak-tanduk orang kafir baik pada dhahir/ bathin maka ini adalah salah satu dari petaka yang mengancam keselamatan agama seseorang. (Fadhlul Ghaniyyul Hamîd, oleh Syaikh Yâsir Al-Burhâmi 103).

Rahasia dibalik tidak bolehnya menyerupai orang kafir?

Salah satu diantara rahasianya adalah lantaran orang-orang kafir itu sama dengan orang yang sakit hatinya, bahkan lebih parah lagi. Dan manakala hati sakit, maka badannya pun tak akan sehat. Dan seharusnya hati kita tidak menyerupai sedikitpun dengan segala bentuk tindak-tanduk orang-orang kafir, karena semua pekerjaan orang-orang kafir kalau tidak jelek (rusak), pasti kurang baik. Jika telah jelas keburukannya, lalu orang-orang muslim menyetujuinya maka perbuatan itu merupakan sebesar-besar pekerjaan mungkar. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua peribadatan dan kebiasaan yang serupa dengan mereka adalah perbuatan yang diada-adakan dan termasuk sebagai amalan baru dalam agama ini. (Amalan Baru oleh As-Suyuthi edisi terj. h.95 dengan perubahan)

Menyerupai orang kafir adalah mentalitas yang terkalahkan!

Ketika seseorang terkalahkan, maka ia akan mengikuti dan mengambil apa saja yang ada pada orang lain, baik ataupun buruk. Ibnu Khaldun menggambarkan kejiwaan ini dalam Mukaddimah-nya  berikut :

“Orang kalah selamanya suka mengekor pemenang dalam hal symbol, mode pakaian, ideology, dan seluruh sifat dan kebiasaannya. Sebab jiwa meyakini kesempurnaan pada diri orang yang mengalahkannya, dan patuh kepadanya, baik karena mengidamkan kesempurnaan, atau karena kesalahan persepsi bahwa ketaatan jiwa tersebut bukan karena kekalahan yang alami, melainkan karena kesempurnaan pemenang”.

Gambaran ini dapat anda lihat jelas dikalangan sebagian ummat Islam sekarang, yaitu taqlid dalam segala hal! (Al-Hazimatun Nafsiyah oleh Dr. Abdullah Al-Khathir h.37).

Valentine’s Day produk para orang sakit

Jika melihat sejarah dan perkembangan Hari Valentine, maka dapat kita pastikan bahwa perayaan tersebut tidak ada contohnya dalam Islam dan termasuk syi’ar dari agama Nashrani. Sehingga menjadi suatu kewajiban bagi orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya untuk tidak sekali-kali ikut meramaikan perayaan tersebut, dan orang-orang Islam hendaknya menjadikan hari itu seperti hari-hari lainnya.

Sekilas tentang sejarah Hari Valentine

Sewaktu pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat operasi ekspansif militeris, Claudius mempunyai banyak kesulitan merekrut tentara untuk perluasan wilayahnya. Claudius beralasan bahwa yang menyebabkan para lelaki tidak mau melayani kekaisaran adalah karena kasih sayang mereka kepada rumah dan keluarga. Akibatnya Claudius mendeklarasikan bahwa seluruh pertunangan dan pernikahan pada masa kekaisarannya adalah tidak sah serta para pasangan cinta dilarang untuk menikah.

Konon, ada seorang pendeta bernama St. Valentine yang dicintai dan dikagumi oleh banyak orang. Ia menganggap dekrit kaisar adalah tidak adil, karena itu ia meneruskan untuk menikahkan pasangan manusia secara diam-diam. Akhirnya kaisar marah besar dan memerintahkan si pendeta untuk dipenjarakan (269 M) dan dihukum mati. St. Valentine kemudian dikultuskan sebagai orang suci (pelindung pasangan kekasih)

Tanggal 14 ditetapkan sebagai hari Valentine

Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Glasius I (merupakan kaisar pertama yang memeluk Nashrani) mengubah bentuk upacara Lupercalia (hari peribadatan kepada Dewa Lupercus yang merupakan Dewa Kesuburan, Padang rumput, dan Pelindung peternakan),   menjadi perayaan Purifikasi (pembersihan diri). Dan pada thn 496 M, Paus Glasius I mengubah tanggal perayaan Purifikasi menjadi tanggal 14 Februari (yang sebelumnya dilakukan pada tanggal 15 pebruari). Sebagai pengkultusan terhadap St. Valentine, maka tanggal 14 Februari oleh Paus Glasius I ditetapkan sebagai St. Valentine’s Day (Hari Valentine). Sehingga tradisi Lupercalia dimarakkan kembali pada tanggal 14 Februari sekaligus sebagai peringatan kematian St.Valentine (Sang Pelindung Pasangan Kekasih).

Heartland: http://www.geocities.com/Heartland/Fields/2142/VdayHistory.html

Dosa lain dari merayakan Valentine

Benar tidaknya sejarah Saint Valentine di atas, yang jelas perayaan tersebut bukan bagian dari syariat ini. selain bentuk penyerupaan terhadap ritual orang-orang kafir, ada banyak pelanggaran lain yang tidak mungkin terhindarkan dalam acara tersebut diantaranya: Menambah dan menetapkan hari raya (perayaan) yang tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya padahal Hari Raya adalah bersifat taufiqi (tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i), terjadi percampur-bauran antara dua lawan jenis yang berbeda, berpakaian ala orang-orang kafir (pendek, ketat, tipis, bahkan laki-laki berdandan seperti wanita), disertai dengan iringan musik  dan nyanyian, dan didalamnya terdapat pemborosan harta. Bagi orang Islam yang berakal, tentunya tidak akan pernah mau menjerumuskan dirinya dalam lautan kemaksiyatan ini.

Kesimpulan :

Haram  menyelenggarakan acara hari valentine dan haram pula turut mengambil bagian dari kegiatan-kegiatan tersebut sekecil apapun bentuknya (termasuk mengedarkan undangan dan mengucapkan selamat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: