• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • Juli 2008
    S S R K J S M
    « Jun   Agu »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Meta

  • Kajian Salaf

Bid’ah-bid’ah di bulan Rajab

Soal: Di buku-buku keagamaan banyak kami temukan hadits  tentang keutamaan bulan Rajab dan keutamaan beramal didalamnya.  Begitu juga, kami sering mendengar wejangan para  dai dan khatib Jum’at tentang keutamaan tersebut. Agar kami lebih tenang dalam mengamalkan hadits-hadits tersebut, harap kedudukan hadits tersebut di jelaskan [dari sisi shahih tidaknya]. Dan amalan apa saja yang termasuk bid’ah di bulan Rajab.  Jazâkallah atas jawabannya. [Hamba Allah-Jember]

Jawab: Bulan Rajab termasuk dari bulan-bulan haram [selain Rajab, bulan haram lainnya adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram] dan bulan yang terhormat disisi Allah.  Allah swt berfirman:

Artinya, ‘Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.’ [QS; At-Taubah 36]

Ibnu Katsir [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/104] berkata, ‘Ibnu Abbas berkata, ‘Allah menjadikan setiap kemaksiyatan di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dan setiap amal shalih lebih besar pahalanya.’ Hal yang senada juga disampaikan oleh Qatadah. Beliau berkata, ‘Melakukan kedhaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibanding berbuat kedhaliman dibulan-bulan selainnya, meskipun kedhaliman disetiap keadaan tetap besar dosanya.

HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN RAJAB

Secara spesifik, tidak ada di dalam sunnah yang menyebutkan tentang keutamaan Rajab. Ibnu Hajar –Amirul Mukminin didalam ilmu hadits- didalam risalahnya yang berharga yang berjudul ‘Tabyînul ‘Ujab Fi Fadhli Rajab hal.11′ berkata, ‘ Tidak ada satu hadits shahihpun yang layak di jadikan hujjah dalam hal keutamaan bulan Rajab serta keutamaan berpuasa di dalamnya, begitu juga tidak ada keutamaan pelaksanaan shalat malam khusus pada malam harinya.’ Beliau juga berkata, ‘Hadits-hadits yang sharih [jelas] yang terdapat didalam keutamaan rajab atau keutamaan berpuasa di bulan itu secara penuh atau berpuasa di sebagian harinya terbagi pada dua bagian yaitu; bagian yang lemah dan bagian yang palsu.’

Beliau dengan kesungguhannya berhasil mengumpulkan sebelas hadits-hadits lemah dan dua puluh satu hadits-hadits palsu tentang Rajab.

Berikut hadits-hadits masyhur tentang Rajab yang banyak terdapat didalam buku-buku dan yang seringkali diucapkan oleh para khatib-khatib jum’at;

1. Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, sedang Ramadhan adalah bulan ummatku… [Palsu! demikian penilaian Ibnu Hajar didalam Tabyinul ‘Ujab no.18 dan Ibnul Jauzi didalam ‘Al-Maudhû’at 2/124 didalam sanadnya terdapat rawi-rawi yang majhul’]

2. ‘Janganlah kalian melupakan malam jum’at pertama dari bulan rajab, karena malam itu disebut oleh Malaikat dengan Raghaib; maka tidaklah ada seorang yang berpuasa pada hari Kamis pertama dari bulan Rajab, kemudian shalat antara Maghrib dan Isya sebanyak dua belas rakaat, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya.’  [Palsu. hadits ini merupakan lanjutan dari hadits pertama.]

3. Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw apabila telah masuk didalam bulan Rajab ia berdoa, ‘Ya Allah berkahilah kami didalam bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada Ramadhan.’ [Lemah! dilemahkan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar, Al-Baihaqy, dan Al-Haitsami didalam ‘Al-Majma’ 2/165.]

4. ‘Keutamaan bulan Rajab dibanding bulan-bulan lainnya, adalah seperti keutamaan Al-Quran dibanding ucapan-ucapan lainnya [selain Al-Quran].’ [Palsu! demikianlah penilaian Ibnu Hajar Al-Asqalâny].

5. ‘Barangsiapa yang menghidupkan satu malam dari bulan Rajab [melakukan shalat dimalam harinya] dan berpuasa sehari [pada siang harinya] maka Allah akan memberi makan kepadanya dengan buah-buahan syurga.’ [Palsu! didalam sanadnya ada rawi yang bernama; Hafash bin Makhârq].

6. ‘Perbanyaklah Istighfar pada bulan Rajab, karena Allah setiap saat membebaskan dari neraka pada bulan itu.’ [Lemah! didalam sanadnya terdapat rawi yang benarma Ashbagh bin Tsubatah, dia seorang perawi yang matruk. Lihat Tadzkirah Al-Maudhu’at 116.]

7. ‘Sesungguhnya didalam syurga terdapat sebuah sungai yang bernama Rajab, airnya melebihi putihnya susu..’ [Bathil!]

8.  ‘Berpuasa dihari pertama dibulan Rajab adalah penghapus dosa selama tiga tahun, puasa dihari yang kedua penghapus dosa selama dua tahun…’ [Lemah!]

9. Didalam bulan Rajab terdapat satu malam, orang yang beramal pada malam itu dicatat baginya 100 kebaikan, dan malam itu adalah tiga malam pada akhir bulan Rajab. Orang yang shalat 12 rakaat pada malam itu dengan membaca Al-Fatihah…’ [Lemah! Lihat Tabyinul ‘Ujab no.25.]

10.   ‘Barangsiapa yang shalat pada malam 27 Rajab sebanyak 12 rakaat…’ [Palsu!]

11.   Barangsiapa yang shalat pada pertengahan malam bulan Rajab sebanyak 14 rakaat…’ [Palsu!]

12.   Hari-hari Rajab tertulis pada pintu-pintu langit yang ke-enam, jika seseorang berpuasa sehari dari bulan itu…’ [Palsu!]

13.   Barangsiapa yang melepaskan satu kesulitan dari seorang mukmin di bulan Rajab…’ [Palsu!]

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menyebutkan tentang keutamaan Rajab, keutamaan berpuasa dan shalat didalamnya. Namun seperti yang kami sebutkan sebelumnya bahwa semua hadits-hadits yang terkait tentang itu berada diantara lemah dan palsu.

BID’AH-BID’AH DI BULAN RAJAB

Karena lemah dan palsunya hadits-hadits yang terkait dengan keutamaan bulan Rajab, begitu juga dalam hal berpuasa dan shalat didalamnya. Maka orang yang melakukan amalan-amalan khusus di bulan Rajab dengan mendasari perbuatannya dengan hadits-hadits lemah dan palsu diatas maka dikategorikan telah melakukan perbuatan bid’ah. Untuk lebih jelasnya, kami sebutkan amalan-amalan bid’ah yang terkait dengan bulan Rajab sebagai berikut;

1. Menjalani puasa pada bulan ini tanpa ada putus [berpuasa berturut-turut selama sebulan penuh sama halnya dengan puasa wajib di bulan Ramadhan].

2.  Mengkhususkan hari-hari di bulan ini untuk melakukan puasa pada setiap tahunnya. [adapun orang yang sudah terbiasa puasa Dawud, puasa senin dan kamis, serta puasa ayyamul bidh maka hal itu tidak mengapa bahkan tetap disunnahkan]

3.  Melakukan puasa pada tanggal 27 Rajab dan juga menunaikan shalat di khusus dimalam harinya.

4. Mengadakan perkumpulan pada malam Isra’ dan Mi’raj [malam peringatan Isra’ dan Mi’raj] dengan membaca dan menelaah kisah Isra’ dan Mi’raj.

5.  Menunaikan shalat 12 Rakaat pada malam Jumat awal dibulan Rajab.

6.  Menunaikan shalat Raghaib.

7.  Mengkhususkan doa dan zikir khusus pada bulan Rajab pada awal, akhir, atau pada semua hari dan pada salah satu hari tertentu didalamnya.

8.  Berbondong-bondong melakukan ziarah kubur.

9.  Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab.

Mengkhususkan bersedekah dibulan Rajab dengan keyakinan adanya keutamaan-keutamaan tertentu bersedekah di bulan Rajab.

Demikianlah jawaban kami,  Mudah-mudahan ada mamfaatnya. Wallahu A’lam.

3 Tanggapan

  1. Kalau saudara memberi vonis bid’ah dsb terhadap amalan2x di atas, maka saya selaku orang awam jg minta solusi & arahan agar kami tidak tersesat di 2 bulan itu, Bukan hanya sekedar justifikasi saja. Trimakasih

  2. Bid’ah Secara Etimologis dan Terminologis

    Mari kita simak sejenak fatwa Syeh Azhar Atiyah Muhammad Saqr yang dikeluarkan pada tahun 1997. Bahwa sebenarnya isu bid’ah yang berkembang di masyarakat Muslim saat ini disebabkan oleh perbedaan memaknai bi’dah apakah secara etimologis (bahasa) atau terminologis (istilah). Syeh Atiyah menjelaskan lebih jauh:

    Dalam kitab “Al-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Athar” karangan Ibnu Atsir dalam pembahasan “ba da ‘a” (asal derivatif kata bid’ah) dan dalam pembahasan hadist Umar r.a. masalah menghidupkan malam Ramadhan “: نعمت البدعة هذه” Inilah sebaik-baik bid’ah”, dikatakan bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, ada 1) bid’ah huda (bid’ah benar sesuai petunjuk) dan ada 2) bid’ah sesat. Bid’ah yang betentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya s.a.w. maka itulah bid’ah yang dilarang dan sesat. Dan bid’ah yang masuk dalam generalitas perintah Allah dan Rasulnya s.a.w. maka itu termasuk bid’ah yang terpuji dan sesuai petunjuk agama. Apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah s.a.w. tapi sesuai dengan perintah agama, termasuk pekerjaan yang terpuji secara agama seperti bentuk-bentuk santunan sosial yang baru. Ini juga bid’ah namun masuk dalam ketentuan hadist Nabi s.a.w. diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah oleh Imam Muslim:

    ‏من سن في الإسلام سنة حسنة فعمل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها ولا ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة فعمل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بها ولا ينقص من أوزارهم شيء

    “Barang siapa merintis dalam Islam pekerjaaan yang baik kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan sama dengan orang melakukannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa merintis dalam Islam pekerjaan yang tercela, kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan dosa orang yang melakukannya dengan tanpa dikurangi sedikitpun” (H.R. Muslim).

    Stateman Umar bin Khattab r.a. “Inilah bid’ah terbaik” masuk kategori bid’ah yang terpuji. Umar melihat bahwa sholat tarawih di masjid merupakan bid’ah yang baik, karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukannya, tapi Rasulullah s.a.w. melakukan sholat berjamaah di malam hari Ramadhan beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak melakukannya secara kontinyu, apalagi memerintahkan umat islam untuk berjamaah di masjid seperti sekarang ini. Demikian juga pada zaman Abu Bakar r.a. sholat Tarawih belum dilaksanakan secara berjamaah. Umar r.a. lah yang memulai menganjurkan umat Islam sholat tarawih berjamaah di masjid.

    Para ulama melihat bahwa melestarikan tindakan Umar tesebut, termasuk sunnah karena Rasulullah s.a.w. pernah bersabda “Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaurrashiidn setelahku” (H.R. Ibnu Majah dll.) Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Ikutilah dua orang setelahku, yaitu ABu Bakar dan Umar”. (H.R. Tirmidzi dll).

    Dengan pengertian seperti itu, maka menafsirkan hadist Rasulullah s.a.w. “كل محدثة بدعة” yang artinya “setiap baru diciptakan dalam agama adalah bid’ah” harus dengan ketentuan bahwa hal baru tersebut memang bertentangan dengan aturan dasar syariat dan tidak sesuai dengan ajaran hadist.

    Mengkaji masalah bid’ah memerlukan pendefinisian yang berkembang dan muncul di seputar penggunaan kata bid’ah tersebut. Perbedaan definisi bisa berpengaruh pada perbedaan hukum yang diterapkan. Tanpa mendefinisikan bid’ah secara benar maka kita hanya akan terjerumus pada perbedaan hukum, perbedaan pendapat dan bahkan pertikaian. Demikian juga mendefinisikan bid’ah yang sesat dan masuk neraka, tidaklah mudah.

    Dari beberapa literatur Islam yang ada, dapat disimpulkan sebagai berikut:

    Para ulama dalam mendefinisikan bid’ah, terdapat dua pendekatan yaitu kelompok pertama menggunakan pendekatan etimologis (bahasa) dan kelompok kedua menggunakan pendekatan terminologis (istilah).

    Golongan pertama mencoba mendefinisikan bid’ah dengan mengambil akar derivatif kata bid’ah yang artinya penciptaan atau inovasi yang sebelumnya belum pernah ada. Maka semua penciptaan dan inovasi dalam agama yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah s.a.w. disebut bid’ah, tanpa membedakan antara yang baik dan buruk dan tanpa membedakan antara ibadah dan lainnya. Argumentasi untuk mengatakan demikian karena banyak sekali ditemukan penggunakan kata bid’ah untuk baik dan kadang kala juga digunakan untuk hal tercela.

    Imam Syafi’i r.a. berkata: “Inovasi dalam agama ada dua. Pertama yang bertentangan dengan kitab, hadist dan ijma’, inilah yang sesat. Kedua inovasi dalam agama yang baik, inilah yang tidak tercela.”

    Ulama yang menganut metode pendefinisan bid’ah dengan pendekatan etimologis antara lain Izzuddin bin Abdussalam, beliau membuat kategori bid’ah ada yang wajib seperti melakukan inovasi pada ilmu-ilmu bahasa Arab dan metode pengajarannya, kemudian ada yang sunnah seperti mendirikan madrasah-madrasah Islam, ada yang diharamkan seperti merubah lafadz al-Quran sehingga keluar dari bahasa Arab, ada yang makruh seperti mewarna-warni masjid dan ada yang halal seperti merekayasa makanan.

    Golongan kedua mendefinisikan bid’ah adalah semua kegiatan baru di dalam agama, yang diyakini itu bagian dari agama padahal sama sekali bukan dari agama. Atau semua kegiatan agama yang diciptakan berdampingan dengan ajaran agama, dan disertai keyakinan bahwa melaksakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari agama. Kegiatan tersebut emncakup bidang agama dan lainnya. Sebagian ulama dari golongan ini mengatakan bahwa bid’ah hanya berlaku di bidang ibadah. Dengan definisi seperti ini, semua bid’ah dalam agama dianggap sesat dan tidak perlu lagi dikategorikan dengan wajib, sunnah, makruh dan mubah. Golongan ini mengimplementasikan hadist “كل بدعة ضلالة” yang artinya “setiap bid’ah adalah sesat”, terhadap semua bid’ah yang ada sesuai defisi tersebut. Demikian juga statemen imam Malik: “Barang siapa melakukan inovasi dalam agama Islam dengan sebuah amalan baru dan menganggapnya itu baik, maka sesungguhnya ia telah menuduh Muhammad s.a.w. menyembunyikan risalah, karena Allah s.w.t. telah menegaskan dalam surah al-Maidah:3 yang artinya ” Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”, adalah dalam konteks definisi bid’ah di atas. Adapun pernyataan Umar r.a. dalam masalah sholat Tarawih bahwa “itu sebaik-baik bid’ah” adalah bid’ah dalam arti bahasa (etimologis).

    Lepas dari kajian bid’ah di atas, sesungguhnya tema bid’ah merupakan tema yang cukup rumit dan panjang dalam sejarah pemikiran Islam. Pelabelan ahli bid’ah terhadap kelompok Islam tertentu mulai marak dan muncul, pada saat munculnya polemik dan konflik pemikiran dalam dunia Islam. Merespon polemik pemikiran Islam tersebut, Abu Hasan Al-Asy’ari (meninggal tahun 304 H) menulis buku “Alluma’ fi al-radd ‘ala Ahlil Zaighi wal Bida'” (Catatan Singkat untuk menentang para pengikut aliran sesat dan bid’ah). Setelah itu muncullah kajian-kajian yang makin marak dan gencar dalam mengulas masalah bid’ah.

    Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin (1/248) menegaskan:”Betapa banyak inovasi dalam agama yang baik, sebagaimana dikatakan oleh banyak orang, seperti sholat Tarawih berjamaah, itu termasuk inovasi agama yang dilakukan oleh Umar r.a.. Adapun bid’ah yang sesat adalah bid’ah yang bertentangan dengan sunnah atau yang mengantarkan kepada merubah ajaran agama. Bid’ah yang tercela adalah yang terjadi pada ajaran agama, adapun urusan dunia dan kehidupan maka manusia lebih tahu urusannya, meskipun diakui betapa sulitnya membedakan antara urusan agama dan urusan dunia, karena Islam adalah sistem yang komprehensif dan menyeluruh. Ini yang menyebabkan sebagian ulama mengatakan bahwa bid’ah itu hanya terjadi dalam masalah ibadah, dan sebagian ulama yang lain mengatakan bid’ah terjadi di semua sendi kehidupan.

    Akhirnya juga bisa disimpulkan bahwa bid’ah terjad dalam masalah aqidah, ibadah, mu’amalah (perniagaan) dan bahkan akhlaq. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa semua tingkah laku dan pekerjaan Rasulullah s.a.w. adalah suri tauladan bagi umatnya. Apakah semua pekerjaan Rasulullah s.a.w. dan tingkah lakunya wajib diikuti 100 persen, ataukah sebagian itu sunnah untuk diikuti dan sebagian bolah tidak diikuti? Apakah meninggalkan sebagian pekerjaan yang pernah dilakukan Rasulullah s.a.w. (yang bukan termasuk ibadah) dosa atau tidak? Contohnya seperti adzan dua kali waktu sholat Jum’at, menambah tangga mimbar sebanyak tiga tingkat, melakukan sholat dua rakaat sebelum Jum’at, membaca al-Quran dengan suara keras atau memutas kaset Qur’an sebelum sholat Jum’at, muadzin membaca sholawat dengan suara keras setelah adzan, bersalaman setelah sholat, membaca “sayyidina” pada saat tahiyat, mencukur jenggot. Sebagian ulama menganggap itu semua bid’ah karena tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah dan sebagian lain menganggap itu merupakan inovasi beragama yang diperbolehkan dan baik, dan tidak betentangan dengan ketentuan umum agama Islam. Demikian juga masalah peringatan maulid nabi dan peringatan Islam lainnya, seperti Nuzulul Qur’an, Isra’ Mi’raj, Tahun Baru Hijriyah, sebagian ulama melihat itu bid’ah dan sebagian lainnya menganggap itu bukan bid’ah sejauh diisi dengan kegiatan-kegiatan agama yang baik. Perbedaan para ulama di seputar masalah tersebut terkembali pada perbedaan mereka dalam mengartikan bid’ah itu sendiri, seperti dijelaskan di atas.

    Yang perlu kita garis bawahi lagi, bahwa ajaran agama kita dalam merubah kemungkaran yang disepakati bahwa itu kemungkaran adalah dengan cara yang ramah dan nasehat yang baik. Tentu merubah kemungkaran yang masih dipertentangkan kemungkarannya juga harus lebih hati-hati dan bijaksana. Permasalahan yang masih menjadi khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat) di antara para ulama, tidak seharusnya disikapi dengan bermusuhan dan percekcokan, apalagi saling menyalahkan dan menganggap sesat. Mereka yang menganggap dirinya paling benar dan menganggap akidahnya yang paling selamat, dan lainnya adalah sesat dan rusak, hendaklah ia berhati-hati karena jangan-jangan dirinya telah terancam kerusakan dan telah dihinggapi oleh teologi permusuhan.

    Wallahu a’lam bissowab

    catatan admin:
    mohon akhi Bertianti untuk untuk bisa menyampaikan rujukannya, ulama yang mana dan siapa yang dimaksud dalam penjelasan akhi berikut? atau terdapat dikitab mana?, ini kita perlukan untuk tabayyun, supaya kita tidak terjebak pada lempar batu sembunyi tangan yang sering kita lakukan dengan mengatakan “kata ulama, atau kata sebagian ulama, tapi tanpa menyebutkan ulama yang mana?:

    “….. mencukur jenggot. Sebagian ulama …. dan sebagian lain menganggap itu merupakan inovasi beragama yang diperbolehkan dan baik, dan tidak betentangan dengan ketentuan umum agama Islam… ?

  3. saya fikir puasa di luar bulan Ramadhon hukumnya sunnah, dan saya belum mendengar hukum puasa di bulan rajab di haram kan, kecuali hari yg memang telah ditetapkan haram, seperti hari raya, mengkhususkan hari jumat.

    admin:
    benar sekali akhi Amri Sjahriar, yang bid’ah itu jika mengkhususkan hari-hari di bulan ini untuk melakukan puasa pada setiap tahunnya. [adapun orang yang sudah terbiasa puasa Dawud, puasa senin dan kamis, serta puasa ayyamul bidh maka hal itu tidak mengapa bahkan tetap disunnahkan] —> lihat lagi poin 2.

    dan lihat juga pada artikel https://alikhlash.wordpress.com/2008/04/26/puasa-rajab/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: