<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Edisi 118</title>
	<atom:link href="http://alikhlash.wordpress.com/tag/edisi-118/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alikhlash.wordpress.com</link>
	<description>Buletin Jumat Pondok Pesantren Alikhlash Wuluhan Jember</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2009 09:44:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='alikhlash.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6b06182bf5785bb78e860936f0f6cf50?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title> &#187; Edisi 118</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alikhlash.wordpress.com/osd.xml" title="" />
		<item>
		<title>Inilah Aqidah Kita</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/inilah-aqidah-kita/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/inilah-aqidah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 14:06:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 118]]></category>
		<category><![CDATA[Inilah Aqidah Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Soal: Sering-seringnya kami mendengar kata, &#8216;Aqidah orang itu di pertanyakan!&#8217; atau &#8216;Wah..aqidah orang itu tidak beres!&#8217; Sebenarnya yang dimaksud dengan aqidah itu apa? Dan aqidah yang beres itu yang bagaimana? Harap di jelaskan! [Jember]
Jawab:
Aqidah menurut bahasa berasal dari kata Al-&#8217;Aqdu yang berarti ikatan dan At-Tautsîqu yang berarti kepercayaan/ keyakinan kuat.
Sedang menurut istilah, aqidah adalah iman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=135&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Soal:</strong> Sering-seringnya kami mendengar kata, &#8216;Aqidah orang itu di pertanyakan!&#8217; atau &#8216;Wah..aqidah orang itu tidak beres!&#8217; Sebenarnya yang dimaksud dengan aqidah itu apa? Dan aqidah yang beres itu yang bagaimana? Harap di jelaskan! [Jember]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Aqidah menurut bahasa berasal dari kata Al-&#8217;Aqdu yang berarti ikatan dan At-Tautsîqu yang berarti kepercayaan/ keyakinan kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang menurut istilah, aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tiga Penopang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Agama kita ini tegak diatas tiga penopang, yaitu; Aqidah yang shahih [benar], ibadah yang masyrû&#8217; [disyariatkan], dan akhlaq yang fâdhilah [mulia lagi utama].</p>
<p style="text-align:justify;">Aqidah yang shahih adalah aqidah As-Salafush Shalih. Sedang As-Salafus Shalih sendiri adalah para shahabat yang mulia dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan cara yang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibadah yang masyrû&#8217; adalah ibadah yang tegak diatas dalil yang bersumber dari Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah yang shahih dan bukan ibadah yang dibuat-buat [bid'ah].</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang Akhlak yang fâdhilah adalah semua budi pekerti yang mulia yang syariat menyeru kepadanya, mendorong untuk melakukannya dan memerintahkan untuk menerapkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiga masalah diatas bukanlah hanyalah sekedar pengetahuan umum belaka tetapi ia adalah sebab-sebab keselamatan didunia dan akhirat dan merupakan jalan yang menghubungkan kepada Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Inilah Aqidah Kita</strong></p>
<p style="text-align:justify;">[1].       Beriman kepada Allah Ta&#8217;ala, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, kebangkitan setelah kematian, dan beriman kepada Qadar baik dan buruk.</p>
<p style="text-align:justify;">[2].      Diantara bentuk keimanan kepada Allah Ta&#8217;ala adalah beriman kepada apa yang ia sifatkan atas diri-Nya sebagaimana yang terdapat didalam Kitab-Nya dan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam <strong><em>tanpa tahrif</em></strong> [merubah lafadh Nama dan Sifat, atau merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya], <strong><em>tanpa ta&#8217;thil</em></strong> [menghilangkan dan menafikkan sifat-sifat Allah Ta'ala atau mengingkari seluruh atau sebagian sifat-sifat Allah Ta'ala.], <strong><em>tanpa takyif</em></strong> [yaitu menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau mempertanyakan, 'Bagaimana sifat Allah itu?'], <strong><em>tanpa tamtsil</em></strong> [mempersamakan atau menyerupakan Sifat Allah Ta'ala dengan makhluk-Nya]. Bahkan sebaliknya kita beriman bahwa Allah tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Kita tidak menafikkan apa yang Dia sifatkan terhadap diri-Nya, dan kita  tidak menyerupakan-Nya dengan satupun dari makhluk-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">[3].       Al-Qur&#8217;an adalah kalamullah yang diturunkan dari sisi-Nya dan Al-Qur&#8217;an bukanlah makhluk. Al-Qur&#8217;an berasal dari-Nya dan kepada-Nya akan kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">[4].       Diantara bentuk beriman kepada hari Akhir adalah beriman kepada apa yang akan terjadi setelah kematian berupa fitnah kubur, siksa dan kenikmatannya, kebangkitan setelah kematian, beriman kepada adanya Al-Haudh [telaga air yang turun dari sungai surga pada hari kiamat yang diperuntukkan bagi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam], Al-Mizan [timbangan untuk menimbang amalan hamba-Nya], Ash-Shirath [jembatan yang bentangkan di atas Neraka Jahannam yang akan dilewati ummat manusia], Surga dan Neraka.</p>
<p style="text-align:justify;">[5].       Iman itu mencakup perkataan dan perbuatan. Bahwa <strong><em>iman itu bertambah dan berkurang</em></strong>. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiyatan.</p>
<p style="text-align:justify;">[6].       Kita tidak menvonis kafir kepada seorang muslim yang melakukan kemaksiyatan sekalipun ia melakukan dosa besar.Namun sebaliknya kita berkata, &#8216;Ia adalah orang yang kurang imannya[Nâqishul Iman]&#8216; atau kita katakan, &#8216;Ia beriman dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besar yang ia lakukan. Barangsiapa yang bertaubat maka Allah akan memberikan taubat kepada-Nya. Dan barangsiapa yang mati tanpa bertaubat [sedang ia seorang muslim] maka ia berada dibawah kehendak Allah Ta&#8217;ala, jika Allah mau maka Allah mengazabnya dan jika Allah mau maka Allah mengampuninya.</p>
<p style="text-align:justify;">[7].       Kita mencintai shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta Ahlul Baitnya. Kita menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara para mereka. Kita beriman bahwa mereka memiliki keutamaan dan amal-amal shalih yang mana hal itu dapat menghapuskan kesalahan yang muncul dari mereka. Dan siapa saja menyertai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu beriman kepadanya dan mati dalam keadaan seperti itu maka ia lebih utama dari semua Tabi&#8217;in yang datang setelahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">[8].       Kita membenarkan karamah para wali-wali dan kejadian luar biasa yang terjadi di tangan mereka. Sedang wali itu adalah setiap yang beriman lagi bertakwa. Dan kita mewaspadai wali-wali syetan serta  kejadian luar biasa yang terjadi ditangan mereka yang bersumber dari tipu daya syetan. Sedang mereka itu mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman.</p>
<p style="text-align:justify;">[9].       Kita berpegang teguh pada As-Sunnah dan kita mengajarkannya kepada segenap kaum muslimin. Kita  memerangi bid&#8217;ah dan menjelaskan hakikatnya sehingga kaum muslimin dapat mewaspadainya.</p>
<p style="text-align:justify;">[10].     Kita tidak memberikan kesaksian kepada seseorangpun bahwa ia berada di syurga dan begitu juga kita tidak menvonis kepada seseorangpun bahwa ia adalah ahli neraka kecuali apa yang dikhabarkan oleh nash-nash syariat berupa persaksian masuk syurga atau masuk neraka.</p>
<p style="text-align:justify;">[11].     Kita berharap bagi orang-orang yang berbuat baik dari kaum muslimin mati dalam keadaan Husnul Khâtimah. Dan kita mengkhawatirkan pelaku kemaksiyatan dari kaum muslimin mati dalam keadaan Su&#8217;ul Khâtimah.</p>
<p style="text-align:justify;">[12].     Surga dan Neraka adalah dua makhluk yang tidak akan binasa. Syurga adalah tempat bagi wali-wali Allah sedang neraka adalah balasan untuk musuh-musuh-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">[13].     Meminta tolong kepada orang-orang yang telah mati, menyeru mereka, dan beristighatsah kepada mereka adalah salah satu bentuk kesyirikan kepada Allah. Begitu juga kepada orang-orang yang hidup yang ia tidak mampu melakukannya kecuali Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p style="text-align:justify;">[14].     Orang yang terbaik pada ummat ini -setelah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam- adalah Abu Bakar, kemudian Umar, lalu Utsman dan disusul oleh Ali Radhiyallahu Anhum Ajmain.</p>
<p style="text-align:justify;">[15].     Satu orang Nabi adalah lebih utama dari semua para wali.</p>
<p style="text-align:justify;">[16].     Beriman kepada semua kitab-kitab yang diturunkan dari sisi Allah. Al-Qur&#8217;an adalah kitab yang paling utama dibanding yang lainnya. Ia adalah penghapus untuk semua kitab-kitab yang ada sebelumnya. Semua kitab yang datang sebelum Al-Qur&#8217;an telah di putarbalikkan serta dirubah isinya. Sedang Al-Qur&#8217;an maka Allah benar-benar telah menjaganya baik lafadh maupun maknanya. Allah Ta&#8217;ala berfirman, &#8216;Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur&#8217;an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.&#8217; [QS. Al-Hijr:9]</p>
<p style="text-align:justify;">[17].     Tidak ada seorangpun yang mengetahui yang ghaib melainkan Allah semata. Ia Ta&#8217;ala terkadang menyingkapkan ilmu ghaib kepada sebagian rasul-rasulnya, berdasarkan pada firman Allah, &#8216;[Dialah Tuhan] Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang di ridhai-Nya.] [QS. Al-Jîn: 26]</p>
<p style="text-align:justify;">[18].     Mendatangi dukun, tukang ramal, dan para dajjal adalah termasuk dari salah satu dosa besar. Meyakini kebenaran mereka adalah bentuk kekufuran kepada Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">[19].     Kita tidak diperbolehkan bercerai berai dalam agama ini dan tidak boleh pula mengobarkan fitnah antar sesama muslim. Apa yang kita perselisihkan maka harus dikembalikan kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta apa yang telah di tempuh oleh salaful ummah. [Dikutip dari Mashâbih Adhâ'at Lan Ath-Tharîq oleh Syaikh Shafwât Asy-Syawadfi hal.15-18].</p>
Posted in Aqidah Tagged: Edisi 118, Inilah Aqidah Kita <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=135&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/inilah-aqidah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pantangan Murid</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/pantangan-murid/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/pantangan-murid/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 14:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 118]]></category>
		<category><![CDATA[Pantangan Murid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Menuntut Ilmu adalah salah satu amalan terbaik dan pendekatan diri terbaik yang akan menambahkan keimanan, petunjuk, cahaya hidayah, dan ketakwaan. Siapapun yang mengikuti jalan dan manhaj ilmu serta terhindar dari pantangannya, maka ia mendapatkan kemenangan besar, baik didunia maupun diakhirat.
Diantara pantangan atau kesalahan murid dalam mempergauli gurunya adalah;
1.      Berbicara dengan guru dengan lafadh anta [kamu], [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=133&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Menuntut Ilmu adalah salah satu amalan terbaik dan pendekatan diri terbaik yang akan menambahkan keimanan, petunjuk, cahaya hidayah, dan ketakwaan. Siapapun yang mengikuti jalan dan manhaj ilmu serta terhindar dari pantangannya, maka ia mendapatkan kemenangan besar, baik didunia maupun diakhirat.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara pantangan atau kesalahan murid dalam mempergauli gurunya adalah;</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Berbicara dengan guru dengan lafadh anta [kamu], namun yang benar adalah memanggil gurunya dengan kata antum [atau panjenengan dalam bahasa jawa] sebagai bentuk penghormatan kepadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">2.      Melalui atau melintasi sang guru dalam keadaan berjalan. Akan tetapi, hendaklah sang murid menunggu dan membiarkan sang guru berjalan didepannya.</p>
<p style="text-align:justify;">3.      Melupakan kemuliaan seorang guru dan tidak menghormatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">4.      Masuk dan menemui sang guru pada saat di luar majelis ilmu, kecuali dengan izinnya.</p>
<p style="text-align:justify;">5.      Tidak sabar atas tabiat dan watak sang guru dalam memberikan pelajaran.</p>
<p style="text-align:justify;">6.      Memandang dengan pandangan remeh pada sang guru.</p>
<p style="text-align:justify;">7.      Melukai dengan segala bentuk pelukaan; baik dihadapan maupun di belakang sang guru.</p>
<p style="text-align:justify;">8.      Tidak duduk dihadapan guru dengan tawadhu&#8217;, rendah hati, dan khusuk mendengarkan apa yang sedang disampaikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">9.      Terus menerus melontarkan pertanyaan pada guru [kecuali setelah ada izin]</p>
<p style="text-align:justify;">10.  Menanyakan kepada guru tentang sesuatu yang bukan bidangnya.</p>
<p style="text-align:center;">[Dari kitab Akhthâuna fil Ibadat wal Mualamat oleh Musthafa Murad Subhi]</p>
Posted in Ahlaq Tagged: Edisi 118, Pantangan Murid <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=133&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/pantangan-murid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelukan Saat Bertemu</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/pelukan-saat-bertemu/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/pelukan-saat-bertemu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 13:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 118]]></category>
		<category><![CDATA[Pelukan saat bertemu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[ 
Soal : Saat tamu berkunjung ke rumah atau disaat kita menyambut keluarga yang baru saja kembali menunaikan ibadah haji, bolehkah kita menyambutnya dengan pelukan? [Malang]
Jawab: 
Yang disunnahkan saat bertemu atau disaat menyambut kedatangan tamu adalah dengan berjabat tangan. Al-Barrâ&#8217; Radhiyallahu Anhu berkata, &#8216;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &#8216;Tidaklah ada dua orang muslim bertemu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=130&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Soal :</strong> Saat tamu berkunjung ke rumah atau disaat kita menyambut keluarga yang baru saja kembali menunaikan ibadah haji, bolehkah kita menyambutnya dengan pelukan? [Malang]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang disunnahkan saat bertemu atau disaat menyambut kedatangan tamu adalah dengan berjabat tangan. Al-Barrâ&#8217; Radhiyallahu Anhu berkata, &#8216;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &#8216;Tidaklah ada dua orang muslim bertemu dan saling berjabat tangan kecuali diampunkan dosa keduanya sebelum mereka berpisah.&#8217; [Hasan. HR. Abu Dawud 5212 dan At-Tirmidzi 2727. Lihat Shahih Sunan Abu Dawud 4343].</p>
<p style="text-align:justify;">Seseorang pernah bertanya kepada Abu Dzarr Radhiyallahu Anhu, &#8216;Apakah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjabat tangan kalian apabila kalian berjumpa dengannya?&#8217; Dia menjawab, &#8216;Setiap kali aku bertemu Rasulullah, beliau pasti menjabat tanganku.&#8217; [HR. Ahmad]</p>
<p style="text-align:justify;">Berjabat tangan sangat dianjurkan, bahkan ia merupakan sunnah orang terdahulu yang diwariskan secara turun temurun ketika berbai&#8217;at dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memeluk dan Mencium</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bila tamu tidak datang dari perjalanan jauh atau semakna dengan itu maka tidak  dianjurkan untuk berpelukan bahkan ulama-ulama memakruhkannya. Hal ini didasarkan pada hadits Anas bin Mâlik Radhiyallahu Anhu ia berkata, &#8216;Seorang laki-laki bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, seseorang dari kami berjumpa dengan saudara atau temannya, apakah dia mesti membungkukkan badannya?. Beliau bersabda, &#8216;Tidak.&#8217; Ia berkata, &#8216;Apakah ia memeluk dan menciumnya?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Tidak.&#8217; Ia berkata, &#8216;Apakah ia mengambil tangannya lalu menjabatnya?&#8217; Beliau bersabda, &#8216;Ya.&#8217; [Hasan Shahih. HR. At-Tirmidzi 2728 dan Ibnu Majah 3702. Lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi 7193 dan Shahih Sunan Ibnu Majah 2987]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memeluk Tamu Jauh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun memeluk tamu yang datang dari perjalanan jauh seperti datang dari perjalanan haji, kembali dari menuntut ilmu dan lain sebagainya, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini didasarkan pada hadits Anas Radhiyallahu Anhu, dimana ia berkata, &#8216;Para shahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam saat bertemu, mereka berjabat tangan dan bila datang dari perjalanan jauh mereka saling berpelukan.&#8217; [Sanadnya Jayyid. Dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath 97. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah 2647]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hanya untuk sesama jenis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketentuan diatas [jabat tangan dan berpelukan] hanya berlaku antar sesama jenis.  Dan tidak berlaku untuk yang berlawan jenis yang tidak memiliki hubungan mahram. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, &#8216;Bahwa ditikam dikepala seseorang dari kalian dengan jarum dari besi, adalah lebih baik baginya dari pada ia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.&#8217; [Shahih. Dikeluarkan oleh Ath-Thabrany. Lihat Ash-Shahihah 226]. Dan kata &#8216;menyentuh&#8217; pada hadits ini mencakup didalamnya berjabat tangan dan berpelukan. Wallahu A&#8217;lam.</p>
Posted in Ahlaq Tagged: Edisi 118, Pelukan saat bertemu <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=130&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2009/02/18/pelukan-saat-bertemu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>