<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Edisi 075</title>
	<atom:link href="http://alikhlash.wordpress.com/tag/edisi-075/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alikhlash.wordpress.com</link>
	<description>Buletin Jumat Pondok Pesantren Alikhlash Wuluhan Jember</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2009 09:44:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='alikhlash.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6b06182bf5785bb78e860936f0f6cf50?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title> &#187; Edisi 075</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alikhlash.wordpress.com/osd.xml" title="" />
		<item>
		<title>Qidam sifat Allah?</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/qidam-sifat-allah/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/qidam-sifat-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 15:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 075]]></category>
		<category><![CDATA[Qidam sifat Allah?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Soal:
Di beberapa mata pelajaran keagamaan, disana kami mendapatkan sifat Qidam bagi Allah. Apa yang dimaksud dengan sifat qidam tersebut dan apakah benar ia termasuk dari sifat – sifat Allah? (Hamba Allah)
Jawab:
 Dalam kamus – kamus Arab kata Qidam adalah lawan kata dari baru, yang bermakna; yang dahulu (lama). (Lihat Lisanul Arab 5/3552, Qamus Al – [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=16&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Soal:</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><em>Di beberapa mata pelajaran keagamaan, disana kami mendapatkan sifat Qidam bagi Allah. Apa yang dimaksud dengan sifat qidam tersebut dan apakah benar ia termasuk dari sifat – sifat Allah? (Hamba Allah)</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Dalam kamus – kamus Arab kata Qidam adalah lawan kata dari baru, yang bermakna; yang dahulu (lama). </span><span><strong>(Lihat Lisanul Arab 5/3552, Qamus Al – Muhith 3/506, Mukhtar Ash-Shihhah hal. 525, dan lainnya).</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Sedang definisi Qidam untuk sifat Allah menurut ahli kalam adalah “</span><span><em>Bahwa Allah Ta’ala tidak ada awal untuk keberadaannya dan IA tidak didahului dengan ketidak-adaan, adalah Allah ada dan tidak ada sesuatupun selain diri-Nya, kemudian IA menciptakan makhluk</em></span><span>” </span><span><strong>(Iqtinash Al-Awaly Min Iqtishad Al-Ghazali, oleh DR. Muhammad Rabi’ Jauhari hal. 73).</strong></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Kata Qidam / Qadim dalam Al – Qur’an dan Sunnah</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Ada empat tempat penyebutan kata </span><span><em>Qadim</em></span><span> dalam Al – Qur’an yaitu dalam surat  (</span><span><em>Qs. Yusuf: 95, Yasin: 39, Al – Ahqaf:11, dan Asy – Syu’ara:75 dsn 76</em></span><span>). Lafadh </span><span><em>Qadim</em></span><span> yang ada pada empat tempat tersebut menunjukkan pada sifat bagi makhluk. (</span><span><em>Kekeliruan yang dahulu, sebagai bentuk tanda yang tua, dusta yang lama, dan nenek moyangmu yang dahulu</em></span><span>).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Sedang didalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw apabila masuk masjid beliau berdoa: (</span><span><strong>Artinya</strong></span><span>): “</span><span><em>Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah – Nya yang mulia dan dengan kekuasaannya yang Qadim (terdahulu) dari syaithan yang terkutuk</em></span><span>”. (HR. Abu Dawud) lafadh </span><span><em>Qadim</em></span><span> pada hadits ini menunjukkan pada sifat bagi kekuasaan Allah.</span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Manhaj Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat 	Allah</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Manhaj (</span><span><em>metode</em></span><span>) Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama Allah (</span><span><em>Asmaul Husna</em></span><span>) dan sifat – sifat – Nya adalah menetapkan nama – nama dan sifat – sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt untuk diri – Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul – Nya Saw, tanpa mengubah, tanpa meragukan, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat permisalan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Intinya, nama – nama Allah dan sifat – Nya adalah bersifat </span><span><em>taufiqi</em></span><span>. Tidak ada ruang untuk berpendapat atau ber – ijtihad di dalamnya. (</span><span><em>Untuk mengetahui manhaj ahlus sunnah dalam asma’ dan sifat ini lihat “Aqidah At- Tauhid” oleh DR. Shalih Bin Fauzan hal. 63</em></span><span>). </span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Qidam, sifat dari sifat – sifat Allah?</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Tidak terdapat di dalam ayat Al – Qur’an bahwa Allah menamai atau mensifati diri – Nya dengan </span><span><em>Qadim</em></span><span> atau </span><span><em>Qidam</em></span><span>. Begitu juga tidak terdapat di dalam sunnah bahwa Rasulullah Saw menetapkan sifat </span><span><em>Qidam</em></span><span> Allah Ta’ala. Jika kita konsisten dengan metode ahlus sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat Allah seperti yang kami sebutkan di atas maka secara tegas kita katakan bahwa </span><span><em>Qidam</em></span><span> bukanlah nama atau sifat dari Allah Swt.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Al – Qadi Ibnu Abi Al – Izz Al – Hanafy dalam </span><span><em>Syarh Aqidah ath – Thahawiyah</em></span><span> berkata: “</span><span><em>para ahli kalam telah memasukkan kata Al – Qidam didalam nama – nama Allah, padahal ia bukanlah nama dari nama – nama Allah&#8230;</em></span><span>”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Ar – Raghib Al – Ashfahany dalam kitabnya </span><span><em>Al – Mufradat</em></span><span> berkata: “</span><span><em>Tidak terdapat satu kata pun dari Al – Qur’an maupun atsar yang shahih yang menunjukkan bahwa Qadim itu adalah sifat Allah, para ahli kalam menggunakan dan mensifatkan Allah dengan hal itu</em></span><span>”.</span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Allah adalah Al – Awwal (yang awal)</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Untuk menunjukkan bahwa Al</span><span>lah tidak didahului oleh apapun, yang keberadaannya tidak ada permulaannya maka Allah memperkenalkan diri – Nya kepada kita bahwa Dia adalah </span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> (</span><span><em>bukan dengan Qidam</em></span><span>).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Allah Swt berfirman:</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">
<p><span><strong>Artinya:</strong></span><span> </span><span><em>Dialah yang awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan dia Maha mengetahui segala sesuatu</em></span><span>. (Q.S: Al – Hadid: 3).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Al – Khatthabi berkata: “</span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> berarti yang mendahului segala sesuatu, yang ada dan sudah ada sebelum  adanya makhluk, yang karena itulah Dia berhak menyandang predikat pertama karena keberadan – Nya itu, yang tidak didahului dan dibarengi oleh apapun.” (Sya’n ad – Du’a:87).</span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Al – Awwal serupa dengan Qidam</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Akan muncul sebuah pertanyaan: Bukankah istilah </span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> ada keserupaan dengan istilah </span><span><em>Qidam</em></span><span>. Lalu mengapa kata Qidam tidak ditetapkan saja sebagai sifat dari sifat – sifat Allah? Jawabnya: </span><span><strong>yang pertama</strong></span><span>, karena kita konsisten dengan manhaj Ahlus sunnah. </span><span><strong>Yang kedua</strong></span><span>, jika benar sifat </span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> serupa dengan </span><span><em>Qidam</em></span><span> (</span><span><em>padahal keduanya memang ada perbedaan, seperti yang dinyatakan oleh Abu Al – Izz Al – Hanafy</em></span><span>) maka tetap ia tidak dapat digunakan untuk menetapkan nama atau sifat Allah. Al – Khatthabi berkata: “Analogi tidak berlaku terhadap nama – nama Allah, dalam pengertian, menyejajarkan sesuatu dengan sejenisnya, dengan pertimbangan aturan bahasa dan logika kalimatnya”. (</span><span><em>Sya’n ad – Du’a: 111</em></span><span>). </span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Kesimpulan</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Qidam bukanlah salah satu dari sifat – sifat Allah. Wallahu ‘Alam.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=16&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/qidam-sifat-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjawab Salam dengan “Assalamu Alaikum”</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/04/24/menjawab-salam-dengan-%e2%80%9cassalamu-alaikum%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/04/24/menjawab-salam-dengan-%e2%80%9cassalamu-alaikum%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 04:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 075]]></category>
		<category><![CDATA[menjawab salam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[
Soal:
Dalam kitab Shahih Al &#8211; Bukhari, di sana kami temukan sebuah hadits yang tampak ganjil bagi kami, yaitu tentang dialog antara Adam dengan Malaikat. Dimana sewaktu Adam mengucapkan salam ke malaikat, malaikat menjawab: &#8220;Assalamu ‘Alaika wa Rahmatullah&#8221;. Apa jawaban malaikat ini tidak keliru? (Pak Teguh-Tanjung Rejo).
Jawab:
Agar pembaca dapat mengambil faedah yang banyak, ada baiknya jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=17&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&amp;gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &amp;lt;![endif]--><!--[if !mso]&amp;gt;--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Soal:</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Dalam kitab Shahih Al &#8211; Bukhari, di sana kami temukan sebuah hadits yang tampak ganjil bagi kami, yaitu tentang dialog antara Adam dengan Malaikat. Dimana sewaktu Adam mengucapkan salam ke malaikat, malaikat menjawab: &#8220;Assalamu ‘Alaika wa Rahmatullah&#8221;. Apa jawaban malaikat ini tidak keliru? (<strong><em>Pak Teguh-Tanjung Rejo</em></strong>).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Agar pembaca dapat mengambil faedah yang banyak, ada baiknya jika hadits yang anda maksudkan itu kami tuliskan teks lengkapnya (menyusul) berikut dengan terjemahannya:</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Artinya: Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Saw, beliau bersabda: Tatkala Allah menciptakan Adam &#8220;Alaihip Salam, Allah berfirman kepadanya: Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para Malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlah jawaban mereka kepadamu, karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan bagi anak cucumu. Maka Adam mengucapkan Assalamu ‘Alaikum. Mereka menjawab: Assalamu Alaika Warahmatullah&#8221;. (<strong><em>H.R Bukhari 6227, Muslim 2841</em></strong>).</p>
<ul class="unIndentedList" style="text-align:justify;">
<li> <strong>Bagaimana cara menjawab salam yang benar?</strong></li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Imam An-Nawawie dalam kitabnya Riyadhus Shalihin membuat pasal khusus tentang ini. Beliau menuli: Pasal cara memberi dan menjawab salam; Sunnah bagi yang memberi salam mengucapkan &#8220;Assalamu ‘Alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuhu&#8221; susunan katanya menggunakan dhamir jamak (kum) sekalipun yang diberi salam hanya seorang; Sedangkan yang menjawab salam mengucapkan: Wa ‘Alaikumus salam wa Rahmatullahi wa Barakatuhu, susunan katanya menggunakan huruf ‘wawu&#8217; athaf pada ungkapan wa ‘alaikum.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Intinya, bahwa dalam menjawab salam seperti yang dikatakan oleh imam An-Nawawie di atas adalah dengan mendahulukan khabar terlebih dahulu (yaitu mendahulukan kata ‘alaikum atau ‘alaika terlebih dahulu baru disusul dengan kata as-salam) dan di awal kata ‘alaikum atau ‘alaika ditambah dengan huruf ‘wawu&#8217;.</p>
<ul class="unIndentedList" style="text-align:justify;">
<li> <strong>Dalil bahwa menjawab salam dimulai dengan huruf &#8220;wawu&#8221;</strong></li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Ada banyak dalil yang menunjukkan bahwa menjawab salam adalah dimulai dengan mendahulukan khabar dan pada awalnya ditambah dengan huruf ‘waw&#8217; diantaranya adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1.      Dari Abu Hurairah R.A, bahwasanya seorang laki-laki masuk ke dalam masjid dan Rasulullah Saw (pada saat itu) sedang duduk di salah satu sudut masjid. Lalu laki-laki tadi shalat (seusai shalat) ia mendatangi Nabi seraya mengucapkan salam kepadanya. Rasulullah Saw menjawab: Wa ‘Alaikas salam, kembalilah, ulangi shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat&#8230; (<strong><em>H.R Bukhari 6251, Muslim 397</em></strong>).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">2.      Dari Aisyah R.A ia berkata: Rasulullah Saw berkata kepadaku: ‘Jibril menyampaikan salam untukmu&#8217;.Maka saya pun menjawabnya: ‘wa ‘alaihis Salam wa rahmatullah wa barakatuhu&#8217;. (<strong><em>H.R. Al-Bukhari 3768, Muslim 2447</em></strong>).</p>
<ul class="unIndentedList" style="text-align:justify;">
<li> <strong>Menyikapi jawaban salam malaikat kepada Adam</strong></li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Jika memperhatikan isi hadits yang kami cantumkan pada awal pembahasan di atas yaitu tentang ucapan salam Adam kepada para Malaikat, maka kita mendapati bahwa Malaikat menjawab salam Adam tidak seperti apa yang disebutkan oleh Imam An-Nawawi yaitu menjawab salam dengan ‘Wa ‘Alaikumus Salam&#8217; tetapi malaikat menjawabnya dengan kalimat ‘Assalamu ‘Alaika wa Rahmatullah&#8217; (yaitu serupa persis dengan ketika melontarkan atau memulai salam). Menanggapi hal ini, ulama-ulama memberi beberapa jawaban atau beberapa kemungkinan untuk memahami teks hadits tersebut:</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">1.      Bahwa para Malaikat tidak bermaksud menjawab salam Nabi Adam, tetapi mereka mengajarkan kepada Nabi Adam tentang bagaimana cara memulai salam yang baik.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">2.      Bahwa jawaban salam Malaikat itu berlaku pada syariat terdahulu sedangkan syariat kita berbeda dengan apa yang berlaku pada syariat terdahulu.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">3.      Bahwa jawaban para malaikat itu menunjukkan bolehnya menjawab salam yang ungkapannya atau lafadhnya serupa dengan ketika memberi salam.</p>
<ul class="unIndentedList" style="text-align:justify;">
<li> <strong>Jawaban yang paling unggul</strong></li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Sebelum mengunggulkan salah satu dari tiga jawaban di atas, kami katakan bahwa hadits pengucapan salam Nabi Adam kepada para Malaikat dalam riwayat Al-Kasymihani disebutkan:&#8217;Lalu para Malaikat menjawab; Wa ‘Alaikas Salam wa Rahmatullah&#8217;, bukan dengan jawaban: ‘Assalamu ‘Alaika wa Rahmatullah&#8217;. Namun kebanyakan riwayat-riwayat menyebutkan dengan jawaban yang terakhir ini. (lihat dalam Fathul Bari 11/6).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Pendapat yang unggul dari tiga jawaban di atas menurut kebanyakan para ulama adalah jawaban yang ketiga bahwa ‘diperbolehkan menjawab salam dengan susunan kata yang serupa dengan susunan kata ketika memberi salam yaitu dengan ungkapan &#8220;Assalamu Alaikum wa Rahmatullah&#8221;.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Imam An-Nawawie (<strong><em>Lihat Syarah Muslim 17/1470</em></strong>) berkata: Dan diperbolehkan dalam menjawab salam dengan ucapan Assamu Alaikum dan tidak disyaratkan bahwa menjawab salam itu mesti dengan ucapan: Wa alaikumus Salam.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Ibnu Hajar (<strong><em>lihat Fathul Bari 11/6</em></strong>) berkata: Riwayat-riwayat yang banyak ini dijadikan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa menjawab salam dengan lafadh serupa dengan lafadh ketika memulai salam adalah mencukupi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Al-Qadhi Abu Walid Sulaiman Bin Khalaf (<strong><em>lihat Al-Muntaqa syarah Muwattha 7/279</em></strong>), berkata: Dan sifat salam itu adalah seorang muslim mengucapkan Assalamu Alaikum dan orang yang membalas menjawab wa Alaikumus salam atau Assalamu Alaikum.</p>
<ul class="unIndentedList" style="text-align:justify;">
<li> <strong>Kesimpulan </strong></li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-align:justify;">Jawaban salam Malaikat kepada Adam dengan ucapan ‘Assalamu ‘Alaika wa Rahmatullah&#8217; adalah dalil bolehnya menjawab salam dengan lafadh: ‘Assalamu ‘Alaika wa Rahmatullah&#8217;. Mudah-mudahan jawaban ini dapat membantu menghilangkan tanda tanya di benak anda seputar hadits tersebut. <em>Wallahu A&#8217;lam&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=17&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/04/24/menjawab-salam-dengan-%e2%80%9cassalamu-alaikum%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>