<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Aqidah</title>
	<atom:link href="http://alikhlash.wordpress.com/tag/aqidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alikhlash.wordpress.com</link>
	<description>Buletin Jumat Pondok Pesantren Alikhlash Wuluhan Jember</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Aug 2009 09:44:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='alikhlash.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6b06182bf5785bb78e860936f0f6cf50?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title> &#187; Aqidah</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alikhlash.wordpress.com/osd.xml" title="" />
		<item>
		<title>Ahlus Sunnah Wal Jama&#8217;ah</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2009/06/29/ahlus-sunnah-wal-jamaah/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2009/06/29/ahlus-sunnah-wal-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 00:45:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[ahlus sunnah waljama'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 129]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Soal:  Beberapa kelompok di daerah kami saling mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling ‘Ahlus Sunnah Wal Jama’ah’. Apakah hakikat yang sebenarnya dari ‘Ahlussunnah Wal Jamaah itu’? Mohon penjelasannya. [Abdullah-Di Bumi Allah]
Jawab :
Istilah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan frase [gabungan kata] yang terdiri dari tiga kata utama, yaitu ahlu, sunnah dan jama’ah. Ahlu artinya pengikut. Ahlussunnah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=161&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Soal:</strong><strong> </strong> Beberapa kelompok di daerah kami saling mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling ‘Ahlus Sunnah Wal Jama’ah’. Apakah hakikat yang sebenarnya dari ‘Ahlussunnah Wal Jamaah itu’? Mohon penjelasannya. <strong>[Abdullah-Di Bumi Allah]</strong></p>
<p><strong>Jawab :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan frase [gabungan kata] yang terdiri dari tiga kata utama, yaitu ahlu, sunnah dan jama’ah. Ahlu artinya pengikut. Ahlussunnah berarti pengikut sunnah, sementara ahluljamaah berarti pengikut jama’ah. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan ahlussunnah dan ahlul jama’ah menurut tinjauan syari’at.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama  : Ahlussunnah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Secara bahasa kata As-Sunnah berarti sejarah [perjalanan hidup] dan jalan [metode] yang ditempuh. Ibnul Atsir dalam An-Nihâyah 2/223 berkata, ‘Dalam hadits berulang kali disebutkan kata as-sunnah dan pecahan katanya. Asal maknanya adalah sejarah hidup dan jalan yang ditempuh.’</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun definisi sunnah menurut ulama ‘aqidah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqad [keyakinan], perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah as-sunnah yang wajib diikuti. Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah dalam kitabnya ‘Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikâm hal.492’ berkata, ‘As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa keyakinan, perkataan dan perbuatan. Itulah as-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi salaf terdahulu tidak menamakan as-sunnah kecuali kepada apa saja yang mencakup ketiga aspek tersebut.’</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, dapat dipahami dari keterangan diatas bahwa ahlussunnah adalah orang yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya. Ibnu Hazm dalam ‘Al-Fishal 2/107’ berkata, ‘Ahlussunnah yang kita sebutkan adalah ahlulhaq [pengikut kebenaran]. Sedang selain mereka adalah ahlulbid’ah.  Ahlussunnah adalah para shahabat <em>Radhiyallahu Anhum </em>dan setiap orang yang menempuh jalan mereka<strong> </strong>dari kalangan tabi’in, lalu para ulama hadits, ulama fiqih dari satu generasi ke generasi selanjutnya sampai hari ini dan juga masyarakat secara umum yang mengikuti mereka, baik di belahan bumi barat maupun timur.’</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KEDUA: AL-JAMA’AH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Secara bahasa <em>‘Jama’ah’ </em>berarti kelompok dan bersatu; lawan katanya [antonimnya] adalah berpecah belah. Dalam hadits, banyak sekali disebutkan perintah untuk berjamaah dan larangan untuk berpecah belah, diantara hadits tersebut adalah sabda Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘&#8230;Sesungguhnya umat Islam ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu yaitu Al Jama’ah.’ </em><strong>[HR Ahmad 4/102, Abu Dawud 5/4597]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adapun definisi <em>Jama’ah </em>menurut ulama ‘aqidah adalah generasi pertama dari ummat ini, yaitu kalangan shahabat, tabi’in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran.’</p>
<p style="text-align:justify;">Allamah Abdurrahman bin Ismail yang populer dengan panggilan Abu Syamah berkata, ‘Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan sunnah itu sedikit dan yang menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu adalah apa yang dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>dan para shahabat beliau <em>Radhiyallahu Anhum.</em> Tanpa melihat banyaknya pengikut kebathilan setelah mereka.’</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Asy-Syathibi <em>Rahimahullah </em>dalam <em>‘Al-I’tishâm 1/449’ </em>berkata, ‘Sudah jelas bahwa jamaah dengan makna ini tidak mensyaratkan banyak sedikitnya pengikut, tapi yang disyaratkan adalah kesesuaiannya dengan kebenaran sekalipun diselisihi oleh mayoritas umat manusia.’</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud <em>Radhiyallahu Anhu, ‘Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.’</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>DEFINISI AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ahlussunnah wal Jama’ah adalah generasi shahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan seluruh ummat Islam yang mendasarkan hidupnya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi shahabat serta menjadikan keduanya sebagai pedoman hidup. Mereka menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam agama. Standar kebenaran mereka adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijmâk yang merupakan kesepakatan para shahabat dan juga ulama mujtahidin yang terpercaya sesudah mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>KESIMPULAN </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari sini jelaslah bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah adalah setiap muslim yang mengikuti jejak para sahabat. Ahlussunnah bukan monopoli golongan tertentu. Tidak benar jika sebagian kelompok umat Islam menganggap dirinya satu-satunya Ahlussunnah sementara kelompok lainnya bukan Ahlussunnah. Ahlussunnah juga bukan sekedar nama, tetapi lebih dari itu ia merupakan manhaj, jalan hidup para sahabat yang harus dipraktikkan. Ukuran apakah seseorang termasuk Ahlussunnah atau tidak? Jawabnya bahwa tidak setiap orang yang mengklaim dirinya atau kelompoknya atau organisasinya atau jama’ahnya sebagai Ahlussunnah, itu benar-benar Ahlussunnah. Karena terkadang mereka menamakan dirinya Ahlussunnah tetapi dalam amalannya mereka tidak sesuai dengan AlQur’an dan as Sunnah. Namun jika jalan hidup mereka sesuai dengan petunjuk Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> dan para sahabat, maka mereka itulah Ahlussunnah wal Jama’ah yang sebenarnya. <em>Wallahu A’lam.</em><em></em></p>
<p style="text-align:justify;">
Posted in Aqidah Tagged: ahlus sunnah waljama'ah, Aqidah, Edisi 129 <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=161&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2009/06/29/ahlus-sunnah-wal-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Valentine&#8217;s Day</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2009/01/17/valentines-day/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2009/01/17/valentines-day/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 14:11:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 077]]></category>
		<category><![CDATA[valentine's day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[
Soal: Sebentar lagi (pada tanggal 14 Pebruari) adalah hari Valentine. Apa hukum mengikuti dan memeriahkan hari itu bagi remaja muslim? haramkah ataukah halal? (0898040xxx)
Jawab : 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Artinya: &#8220;Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah&#8220;(QS: Ali Imrân 28) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=117&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Soal:</span></strong><span style="font-family:Arial;"> Sebentar lagi (pada tanggal 14 Pebruari) adalah hari Valentine. Apa hukum mengikuti dan memeriahkan hari itu bagi remaja muslim? haramkah ataukah halal? (0898040xxx)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><strong><span style="font-family:Arial;">Jawab :</span></strong><strong><span style="font-family:Arial;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><span style="font-family:Arial;">Artinya: &#8220;<em>Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah</em>&#8220;(</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">QS: Ali Imrân 28</span></strong><span style="font-family:Arial;">) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Diantara salah salah satu makna dari perwalian adalah Al-Mutâba’ah yaitu mengikuti. Sebagaimana sabda Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam; &#8220;Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk diantara mereka&#8221;<strong> </strong>(</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">HR. Abu Dawud 4031, Ahmad 2/92,50. Dishahihkan Al-Bany dalam Al-Irwâ’ 1269</span></strong><span style="font-family:Arial;">). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Seorang muslim akan senantiasa berupaya mencontoh dan menyerupai petunjuk Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam baik yang dhahir/ bathin, begitu juga kepada para shahabatnya Radhiyallahu ‘Anhum dan apa-apa yang ditempuh oleh kaum mukminin. Adapun menyerupai tindak-tanduk orang kafir baik pada dhahir/ bathin maka ini adalah salah satu dari petaka yang mengancam keselamatan agama seseorang. (</span><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Fadhlul Ghaniyyul Hamîd, oleh Syaikh Yâsir Al-Burhâmi 103</span></em></strong><span style="font-family:Arial;">).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Rahasia dibalik tidak bolehnya menyerupai orang kafir?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><span style="font-family:Arial;">Salah satu diantara rahasianya adalah lantaran orang-orang kafir itu sama dengan orang yang sakit hatinya, bahkan lebih parah lagi. Dan manakala hati sakit, maka badannya pun <!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]-->tak akan sehat. Dan seharusnya hati kita tidak menyerupai sedikitpun dengan segala bentuk tindak-tanduk orang-orang kafir, karena semua pekerjaan orang-orang kafir kalau tidak jelek (rusak), pasti kurang baik. Jika telah jelas keburukannya, lalu orang-orang muslim menyetujuinya maka perbuatan itu merupakan sebesar-besar pekerjaan mungkar. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua peribadatan dan kebiasaan yang serupa dengan mereka adalah perbuatan yang diada-adakan dan termasuk sebagai amalan baru dalam agama ini. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(<strong>Amalan Baru oleh As-Suyuthi edisi terj. h.95 dengan perubahan</strong>) <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Menyerupai orang kafir adalah mentalitas yang terkalahkan!</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Ketika seseorang terkalahkan, maka ia akan mengikuti dan mengambil apa saja yang ada pada orang lain, baik ataupun buruk. Ibnu Khaldun menggambarkan kejiwaan ini dalam Mukaddimah-nya  berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">&#8220;Orang kalah selamanya suka mengekor pemenang dalam hal symbol, mode pakaian, ideology, dan seluruh sifat dan kebiasaannya. Sebab jiwa meyakini kesempurnaan pada diri orang yang mengalahkannya, dan patuh kepadanya, baik karena mengidamkan kesempurnaan, atau karena kesalahan persepsi bahwa ketaatan jiwa tersebut bukan karena kekalahan yang alami, melainkan karena kesempurnaan pemenang&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Gambaran ini dapat anda lihat jelas dikalangan sebagian ummat Islam sekarang, yaitu taqlid dalam segala hal! </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(<strong>Al-Hazimatun Nafsiyah oleh Dr. Abdullah Al-Khathir h.37</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Valentine’s Day produk para orang sakit</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong><span style="font-family:Arial;">Jika melihat sejarah dan perkembangan Hari Valentine, maka dapat kita pastikan bahwa perayaan tersebut tidak ada contohnya dalam Islam dan termasuk syi’ar dari agama Nashrani. Sehingga menjadi suatu kewajiban bagi orang yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya untuk tidak sekali-kali ikut meramaikan perayaan tersebut, dan orang-orang Islam hendaknya menjadikan hari itu seperti hari-hari lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Sekilas tentang sejarah Hari Valentine</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Sewaktu pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat operasi ekspansif militeris, Claudius mempunyai banyak kesulitan merekrut tentara untuk perluasan wilayahnya. Claudius beralasan bahwa yang menyebabkan para lelaki tidak mau melayani kekaisaran adalah karena kasih sayang mereka kepada rumah dan keluarga. Akibatnya Claudius mendeklarasikan bahwa seluruh pertunangan dan pernikahan pada masa kekaisarannya adalah tidak sah serta para pasangan cinta dilarang untuk menikah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Konon, ada seorang pendeta bernama <strong>St. Valentine</strong> yang dicintai dan dikagumi oleh banyak orang. Ia menganggap dekrit kaisar adalah tidak adil, karena itu ia meneruskan untuk menikahkan pasangan manusia secara diam-diam. Akhirnya kaisar marah besar dan memerintahkan si pendeta untuk dipenjarakan (269 M) dan dihukum mati. <strong>St. Valentine</strong> kemudian dikultuskan sebagai orang suci (pelindung pasangan kekasih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Tanggal 14 ditetapkan sebagai hari Valentine</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Pada tahun 494 M, Dewan Gereja di bawah pimpinan Paus Glasius I (merupakan kaisar pertama yang memeluk Nashrani) mengubah bentuk upacara <strong>Lupercalia </strong>(hari peribadatan kepada Dewa Lupercus yang merupakan Dewa Kesuburan, </span><span style="font-family:Arial;">Padang</span><span style="font-family:Arial;"> rumput, dan Pelindung peternakan),  <strong> </strong> menjadi perayaan <strong>Purifikasi</strong> (pembersihan diri). Dan pada thn 496 M, Paus Glasius I <span> </span>mengubah tanggal perayaan <strong>Purifikasi </strong>menjadi tanggal 14 Februari (yang sebelumnya dilakukan pada tanggal 15 pebruari). Sebagai pengkultusan terhadap <strong>St. Valentine</strong>, maka tanggal 14 Februari oleh Paus Glasius I ditetapkan sebagai <strong>St. Valentine’s Day</strong> (Hari Valentine). Sehingga tradisi <strong>Lupercalia</strong> dimarakkan kembali pada tanggal 14 Februari sekaligus sebagai peringatan kematian <strong>St.Valentine</strong> (Sang Pelindung Pasangan Kekasih).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Heartland: http://www.geocities.com/Heartland/Fields/2142/VdayHistory.html</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Dosa lain dari merayakan Valentine</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;">Benar tidaknya sejarah <strong>Saint Valentine</strong> di atas, yang jelas perayaan tersebut bukan bagian dari syariat ini. selain bentuk penyerupaan terhadap ritual orang-orang kafir, ada banyak pelanggaran lain yang tidak mungkin terhindarkan dalam acara tersebut diantaranya: Menambah dan menetapkan hari raya (perayaan) yang tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya padahal Hari Raya adalah bersifat taufiqi (tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i), terjadi percampur-bauran antara dua lawan jenis yang berbeda, berpakaian ala orang-orang kafir (pendek, ketat, tipis, bahkan laki-laki berdandan seperti wanita), disertai dengan iringan musik  dan nyanyian, dan didalamnya terdapat pemborosan harta. Bagi orang Islam yang berakal, tentunya tidak akan pernah mau menjerumuskan dirinya dalam lautan kemaksiyatan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Arial;">Kesimpulan :</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Haram  menyelenggarakan acara hari valentine dan haram pula turut mengambil bagian dari kegiatan-kegiatan tersebut sekecil apapun bentuknya (termasuk mengedarkan undangan dan mengucapkan selamat). </span></p>
Posted in Aqidah Tagged: Aqidah, Edisi 077, valentine's day <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=117&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2009/01/17/valentines-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bid&#8217;ah-bid&#8217;ah di bulan Rajab</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/bidah-bidah-di-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/bidah-bidah-di-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 14:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah bulan Rajab]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 098]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Soal: Di buku-buku keagamaan banyak kami temukan hadits  tentang keutamaan bulan Rajab dan keutamaan beramal didalamnya.  Begitu juga, kami sering mendengar wejangan para  dai dan khatib Jum&#8217;at tentang keutamaan tersebut. Agar kami lebih tenang dalam mengamalkan hadits-hadits tersebut, harap kedudukan hadits tersebut di jelaskan [dari sisi shahih tidaknya]. Dan amalan apa saja yang termasuk bid&#8217;ah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=80&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Soal: </strong>Di buku-buku keagamaan banyak kami temukan hadits  tentang keutamaan bulan Rajab dan keutamaan beramal didalamnya.  Begitu juga, kami sering mendengar wejangan para  dai dan khatib Jum&#8217;at tentang keutamaan tersebut. Agar kami lebih tenang dalam mengamalkan hadits-hadits tersebut, harap kedudukan hadits tersebut di jelaskan <em>[dari sisi shahih tidaknya]. </em>Dan amalan apa saja yang termasuk bid&#8217;ah di bulan Rajab. <em> </em>Jazâkallah atas jawabannya.<strong> [Hamba Allah-Jember]</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab: </strong><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]-->Bulan Rajab termasuk dari bulan-bulan <em>haram [selain Rajab, bulan haram lainnya adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram] </em>dan bulan yang terhormat disisi Allah.  Allah swt <em> </em>berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Artinya, ‘Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.&#8217;</em> <strong>[QS; At-Taubah 36]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Katsir <em>[Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/104]</em> berkata, ‘Ibnu Abbas berkata, ‘Allah menjadikan setiap kemaksiyatan di bulan-bulan <em>haram </em>lebih besar dosanya dan setiap amal shalih lebih besar pahalanya.&#8217; Hal yang senada juga disampaikan oleh Qatadah. Beliau berkata, ‘Melakukan kedhaliman pada bulan-bulan <em>haram</em> lebih besar dosanya dibanding berbuat kedhaliman dibulan-bulan selainnya, meskipun kedhaliman disetiap keadaan tetap besar dosanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>HADITS-HADITS TENTANG KEUTAMAAN RAJAB</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Secara spesifik, tidak ada di dalam sunnah yang menyebutkan tentang keutamaan Rajab. Ibnu Hajar -<em>Amirul Mukminin didalam ilmu hadits-</em> didalam risalahnya yang berharga yang berjudul ‘<em>Tabyînul ‘Ujab Fi Fadhli Rajab hal.11&#8242; </em>berkata, ‘<!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--><em>Tidak ada satu hadits shahihpun yang layak di jadikan hujjah dalam hal keutamaan bulan Rajab serta keutamaan berpuasa di dalamnya, begitu juga tidak ada keutamaan pelaksanaan shalat malam khusus pada malam harinya.&#8217; </em>Beliau juga berkata, <em>‘Hadits-hadits yang sharih [jelas] yang terdapat didalam keutamaan rajab atau keutamaan berpuasa di bulan itu secara penuh atau berpuasa di sebagian harinya terbagi pada dua bagian yaitu; bagian yang lemah dan bagian yang palsu.&#8217; </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Beliau dengan kesungguhannya berhasil mengumpulkan sebelas hadits-hadits lemah dan dua puluh satu hadits-hadits palsu tentang Rajab.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut hadits-hadits masyhur tentang Rajab yang banyak terdapat didalam buku-buku dan yang seringkali diucapkan oleh para khatib-khatib jum&#8217;at;</p>
<p style="text-align:justify;"><em>1. </em><em>‘</em>Rajab adalah bulan Allah, Sya&#8217;ban adalah bulanku, sedang Ramadhan adalah bulan ummatku&#8230;<strong> [Palsu! </strong><em>demikian penilaian Ibnu Hajar</em> <em>didalam Tabyinul ‘Ujab no.18 dan Ibnul Jauzi didalam ‘Al-Maudhû'at 2/124 didalam sanadnya terdapat rawi-rawi yang majhul'</em>]</p>
<p style="text-align:justify;"><em>2. </em>‘Janganlah kalian melupakan malam jum&#8217;at pertama dari bulan rajab, karena malam itu disebut oleh Malaikat dengan Raghaib; maka tidaklah ada seorang yang berpuasa pada hari Kamis pertama dari bulan Rajab, kemudian shalat antara Maghrib dan Isya sebanyak dua belas rakaat, kecuali Allah akan mengampuni dosa-dosanya.&#8217;  <strong>[Palsu. </strong><em>hadits ini merupakan lanjutan dari hadits pertama.]</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>3. </em>Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw apabila telah masuk didalam bulan Rajab ia berdoa, ‘<em>Ya Allah berkahilah kami didalam bulan Rajab dan Sya&#8217;ban, dan sampaikanlah kami </em><em>pada Ramadhan.&#8217; </em><strong>[Lemah! </strong><em>dilemahkan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar, Al-Baihaqy, dan Al-Haitsami didalam ‘Al-Majma' 2/165</em>.]<em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>4. </em>‘Keutamaan bulan Rajab dibanding bulan-bulan lainnya, adalah seperti keutamaan Al-Quran dibanding ucapan-ucapan lainnya [selain Al-Quran].&#8217; <strong>[Palsu! </strong><em>demikianlah penilaian Ibnu Hajar Al-Asqalâny].</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>5. </em>‘Barangsiapa yang menghidupkan satu malam dari bulan Rajab <em>[melakukan shalat dimalam harinya] </em>dan berpuasa sehari <em>[pada siang harinya] </em>maka Allah akan memberi makan kepadanya dengan buah-buahan syurga.&#8217; <strong>[Palsu! </strong><em>didalam sanadnya ada rawi yang bernama; Hafash bin Makhârq].</em></p>
<p style="text-align:justify;">6. ‘Perbanyaklah Istighfar pada bulan Rajab, karena Allah setiap saat membebaskan dari neraka pada bulan itu.&#8217; <strong>[Lemah! </strong><em>didalam sanadnya terdapat rawi yang benarma Ashbagh bin Tsubatah, dia seorang perawi yang matruk. Lihat Tadzkirah Al-Maudhu'at 116.]</em></p>
<p style="text-align:justify;">7. ‘Sesungguhnya didalam syurga terdapat sebuah sungai yang bernama Rajab, airnya melebihi putihnya susu..&#8217; <strong>[Bathil!]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">8.  ‘Berpuasa dihari pertama dibulan Rajab adalah penghapus dosa selama tiga tahun, puasa dihari yang kedua penghapus dosa selama dua tahun&#8230;&#8217; <strong>[Lemah!]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">9. <strong>‘</strong>Didalam bulan Rajab terdapat satu malam, orang yang beramal pada malam itu dicatat baginya 100 kebaikan, dan malam itu adalah tiga malam pada akhir bulan Rajab. Orang yang shalat 12 rakaat pada malam itu dengan membaca Al-Fatihah&#8230;&#8217; <strong>[Lemah! </strong><em>Lihat Tabyinul ‘Ujab no.25.]</em></p>
<p style="text-align:justify;">10.   ‘Barangsiapa yang shalat pada malam 27 Rajab sebanyak 12 rakaat&#8230;&#8217; <strong>[Palsu!]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">11.   <strong>‘</strong>Barangsiapa yang shalat pada pertengahan malam bulan Rajab sebanyak 14 rakaat&#8230;&#8217; <strong>[Palsu!]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">12.   <strong>‘</strong>Hari-hari Rajab tertulis pada pintu-pintu langit yang ke-enam, jika seseorang berpuasa sehari dari bulan itu&#8230;&#8217; <strong>[Palsu!]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">13.   <strong>‘</strong>Barangsiapa yang melepaskan satu kesulitan dari seorang mukmin di bulan Rajab&#8230;&#8217; <strong>[Palsu!]</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menyebutkan tentang keutamaan Rajab, keutamaan berpuasa dan shalat didalamnya. Namun seperti yang kami sebutkan sebelumnya bahwa semua hadits-hadits yang terkait tentang itu berada diantara lemah dan palsu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BID&#8217;AH-BID&#8217;AH DI BULAN RAJAB</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Karena lemah dan palsunya hadits-hadits yang terkait dengan keutamaan bulan Rajab, begitu juga dalam hal berpuasa dan shalat didalamnya. Maka orang yang melakukan amalan-amalan khusus di bulan Rajab dengan mendasari perbuatannya dengan hadits-hadits lemah dan palsu diatas maka dikategorikan telah melakukan perbuatan <strong>bid&#8217;ah. </strong>Untuk lebih jelasnya, kami sebutkan amalan-amalan bid&#8217;ah yang terkait dengan bulan Rajab sebagai berikut;</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menjalani puasa pada bulan ini tanpa ada putus <em>[berpuasa berturut-turut selama sebulan penuh sama halnya dengan puasa wajib di bulan Ramadhan</em>].</p>
<p style="text-align:justify;">2.  Mengkhususkan hari-hari di bulan ini untuk melakukan puasa pada setiap tahunnya. <em>[adapun orang yang sudah terbiasa puasa Dawud, puasa senin dan kamis, serta puasa ayyamul bidh maka hal itu tidak mengapa bahkan tetap disunnahkan]</em></p>
<p style="text-align:justify;">3.  Melakukan puasa pada tanggal 27 Rajab dan juga menunaikan shalat di khusus dimalam harinya.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Mengadakan perkumpulan pada malam Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj <em>[malam peringatan Isra' dan Mi'raj] </em>dengan membaca dan menelaah kisah Isra&#8217; dan Mi&#8217;raj.</p>
<p style="text-align:justify;">5.  Menunaikan shalat 12 Rakaat pada malam Jumat awal dibulan Rajab.</p>
<p style="text-align:justify;">6.  Menunaikan shalat Raghaib.</p>
<p style="text-align:justify;">7.  Mengkhususkan doa dan zikir khusus pada bulan Rajab pada awal, akhir, atau pada semua hari dan pada salah satu hari tertentu didalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">8.  Berbondong-bondong melakukan ziarah kubur.</p>
<p style="text-align:justify;">9.  Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengkhususkan bersedekah dibulan Rajab dengan keyakinan adanya keutamaan-keutamaan tertentu bersedekah di bulan Rajab.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah jawaban kami,  Mudah-mudahan ada mamfaatnya. <em>Wallahu A&#8217;lam.</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=80&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/bidah-bidah-di-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maulid Nabi</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/maulid-nabi/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/maulid-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 14:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 083]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Soal: Apa hukum menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam dengan perayaan yang ala kadarnya seperti halnya berkumpul-kumpul untuk sekedar mendengar siroh [perjalanan hidup] Nabi, lalu sebagai penutup diadakan acara makan-makan, dan apakah benar bahwa tidak ber-maulid tidak cinta Nabi Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam ? [Jama'ah]
 
 
 
 
Jawab: Ibnu Khalqan salah seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=55&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Soal:</strong><strong> </strong>Apa hukum menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam </em>dengan perayaan yang ala kadarnya seperti halnya berkumpul-kumpul untuk sekedar mendengar siroh [perjalanan hidup] Nabi, lalu sebagai penutup diadakan acara makan-makan, dan apakah benar bahwa tidak ber-maulid tidak cinta Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> ?<strong> [Jama'ah]</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab:</strong> Ibnu Khalqan salah seorang sejarawan ternama, menyebutkan bahwa orang yang pertama kali merintis acara peringatan Maulid Nabi adalah <em>Malik Al-Muzaffaruddin Al-Arbaly At-Turkum</em><em>âny </em>(salah seorang bawahan Sulthan Shalahuddin Al-Ayyubi). Hal itu terjadi pada awal abad ke-7 Hijiriah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang bagaimana suasana upacara maulid perdana pada masa itu, Ibnu Khalqan yang menyaksikan sendiri acara tersebut berkata: <!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--><em>&#8220;&#8230;.Seremoni itu dimulai pada malam Maulid (8 Rabi&#8217;ul Awwal), dengan membawa sejumlah onta, sapi, dan kambing dengan diiringi tabuhan kendang dan lagu-lagu kasidahan, sedang rakyat berada di belakangnya membawa panji-panji, seruling dan pekikan meriah, hingga ternak disembelih dan dagingnya dihidangkan dalam acara itu&#8230; para Sufi pun membawakan berbagai nyanyian unik, menari berputar-putar hingga seolah terbius tak sadarkan diri&#8221;. </em><strong>[Lihat Maqâsidul Islam, oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz dan Rijâlun min Al-Tarikh, oleh Syaikh Ali Thanthawi]</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Persaksian Ibnu Khalqan di atas, memberi pesan kepada kita semua bahwa peringatan maulid bukanlah ibadah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em>, para  shahabat Rasullullah <em>Radhiyallahu ‘Anhum</em> , dan juga para tabiut tabi&#8217;in <em>Rahimahumullahu Ta&#8217;ala</em> ; yang mana mereka adalah<span style="font-size:10.5pt;font-family:&quot;"> generasi terbaik yang lebih mengerti sunnah, lebih mencintai Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em>, dan lebih mengikuti syari’at daripada generasi setelahnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10.5pt;font-family:&quot;">Ketahuilah, bahwa sesuatu yang baru dalam urusan agama (bid’ah) baik itu yang berkaitan dengan ibadah <em>mahdhah</em> atau hanya sekedar dijadikan sebagai syi’ar-syi’ar keagamaan adalah terlarang. Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>&#8220;Dan jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid&#8217;ah dan setiap bid&#8217;ah tempatnya di neraka .&#8221;</em><em> </em><strong>[HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Peringatan maulid bukanlah urusan keduniaan semata sebagaimana yang disangkakan oleh sebagian orang. Tetapi, maulid besar kaitannya dengan urusan ibadah. Lihatlah bagaimana praktek maulid yang umumnya terjadi di tengah masyarakat kita, membaca riwayat hidup Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> yang tertulis dalam bahasa Arab, dibaca dengan lagu-lagu bahkan tidak jarang diiringi dengan rebana, hingga ketika riwayat Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> dilahirkan para hadirin pun berdiri secara serempak membaca syair-syair pujian. Para hadirin berdiri lantaran mereka meyakini bahwa ruh Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> datang pada acara tersebut, sesudah itu diakhiri dengan makan-makan, umumnya dengan buah-buahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tata cara serta keyakinan di atas, adalah tata cara yang teramat jauh dari kebenaran. Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> tidak akan mungkin hadir dalam acara tersebut, Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> tidak akan bangkit dari kuburnya sebelum hari Qiyamat, sedang ruhnya ditempatkan pada tempat yang paling tinggi, tempat kemuliaan, di sisi tuhannya. Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>&#8220;Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur pada hari Qiyamat nanti, aku adalah orang yang pertama kali memberi syafaat dan orang yang pertama kali diterima syafaatnya.&#8221;</em><em> </em><strong>[Shahih. Lihat Tahzir Minal Bid'ah, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz]</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga sewaktu hidupnya, Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> tidak suka disambut oleh shahabat-shahabatnya dengan berdiri. Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>&#8220;Janganlah kalian berdiri (memberi penghormatan) kepadaku, sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri menghormati antara satu dengan yang lainnya.&#8221;</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Lalu mengapa orang-orang itu berani melakukannya ketika Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> telah wafat ? Bukankah ini adalah bentuk pelanggaran terhadap sunnah?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Maulid Bebas Bid&#8217;ah ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jika acara maulid diselenggarakan bebas dari hal-hal yang bid&#8217;ah, artinya tidak ada acara musik, tari-tarian, tidak berdiri menyambut ruh Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em>, tetapi hanya sekedar berkumpul mendengar wejangan tentang perihal kehidupan Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em> apakah diizinkan oleh agama?</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Hâj Al-Mâliky (salah seorang ulama yang banyak dipuji oleh ulama termasuk di antaranya Al-Hafidz Ibnu Hajar) dalam kitabnya <strong>Al-Madkhal</strong> berkata: <em>&#8220;&#8230; Apabila pada acara maulid tersebut tidak mengandung unsur-unsur bid&#8217;ah dan hal-hal yang diharamkan dan hanya terbatas pada penyajian makanan sebagai hidangan untuk para tetamu/undangan namun kaitannya (niatnya) dalam rangka maulid, maka hal tersebut juga adalah bid&#8217;ah, bid&#8217;ah lantaran niatnya. Karena hal itu adalah bentuk penambahan di dalam agama dan bukan amalan dari para shalafus-shalih&#8230;.&#8221; </em><strong>[Lihat Maqâsidul Islam, oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz hal. 220]</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Maulid Sontekan dari Agama Lain ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di samping peringatan maulid tidak memiliki pijakan dalil, peringatan maulid juga masuk dalam lingkup <em>tasyabbuh </em>(penyerupaan) dengan agama lain. Bukankah orang-orang Nashrani mengagungkan tanggal 25 bulan 12 sebagai peringatan hari kelahiran Isa <em>‘Alaihissalam</em>, bukankah orang-orang Hindu juga memiliki satu hari yang diagungkan dalam setahun untuk memperingati hari kelahiran pendiri agamanya? Dalam hal ini, Rasulullah <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam </em>bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya: <em>&#8220;Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.&#8221;</em><em> </em><strong>[HR. Ahmad]</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tidak Maulid-an Tidak Cinta Nabi ?</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Justru sebaliknya, orang yang tidak ikut maulidan adalah orang yang mencintai Nabi-nya.  Bukankah bentuk mencintai Rasul adalah dengan mengikuti perbuatan dan perkataannya? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: <em>&#8220;&#8230;Sesungguhnya kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadap Rasul adalah ber-ittiba&#8217; (mengikuti jejaknya), taat padanya, menjalankan perintahnya&#8230;&#8221; </em><strong>[Iqtidha' Shirâthal Mustaqim 2/122]</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;">Jika cinta yang hakiki adalah dengan mengikuti perbuatan dan perkataan Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam</em>, lalu bagaimana dengan dakwaan orang-orang yang me-ngatakan tidak maulid-an tidak cinta Nabi <em>Shalallâhu ‘Alaihi wa Sallam </em>?? Alangkah jauhnya dakwaan tersebut seperti jauhnya langit dan bumi. Semoga Allah menjauhkan kita dari bagian orang-orang yang dimurkai oleh Allah <em>Ta&#8217;ala.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">1) Peringatan maulid tidak terdapat di dalam Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Tidak dikerjakan oleh para shahabat, tidak juga para tabi&#8217;in, tabi&#8217;ut-tabi&#8217;in, dan imam-imam yang empat (Abu Hanifah, Mâlik, Asy-Syafi&#8217;i dan Ahmad).</p>
<p style="text-align:justify;">2)  Itu artinya, bahwa peringatan maulid adalah bid&#8217;ah.</p>
<p style="text-align:justify;">3)  Seluruh perbuatan bid&#8217;ah adalah sesat, dan Islam tidak pernah mengenal bid&#8217;ah hasanah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan: </strong>Masalah ini telah pernah dimuat di edisi-edisi sebelumnya. Kami memuatnya berulang-ulang (sekali dalam setiap tahun) mengingat acara ini juga berulang-ulang dilakukan pada setiap tahunnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=55&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nabi Isa Adalah Kalimat Dan Ruh Dari Allah</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/nabi-isa-adalah-kalimat-dan-ruh-dari-allah/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/nabi-isa-adalah-kalimat-dan-ruh-dari-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 14:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 073]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Isa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Apakah yang dimaksud dengan firman Allah dalam surat An-Nisâ&#8217; bahwa Allah menciptakan Isa dari kalimat-Nya dan ruh dari-Nya ? Mohon dijelaskan! Mengingat orang-orang Nashara (Kristen) menjadikan ini sebagai dasar bahwa Isa adalah anak Allah.  (Guido &#8211; Malang)
Jawab:
 
Anda tidak perlu takjub dengan ungkapan-ungkapan orang Nashara tersebut -Semoga laknat Allah untuk mereka secara terus-menerus-. Jika mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=50&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah yang dimaksud dengan firman Allah dalam surat An-Nisâ&#8217; bahwa Allah menciptakan Isa dari kalimat-Nya dan ruh dari-Nya ? Mohon dijelaskan! Mengingat orang-orang Nashara (Kristen) menjadikan ini sebagai dasar bahwa Isa adalah anak Allah.  <strong>(Guido &#8211; </strong><strong>Malang</strong><strong>)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt; Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;">Anda tidak perlu takjub dengan ungkapan-ungkapan orang Nashara tersebut <em>-Semoga laknat Allah untuk mereka secara terus-menerus-. </em>Jika mereka jahil (bodoh) dalam penafsiran ayat ini maka ketahuilah bahwa pendahulu-pendahulu merekapun sama jahil dan sesatnya. Ibnu Katsir <em>Rahimahullahu Ta&#8217;ala</em><em> </em>berkata, <em>‘Orang-orang Nashara-semoga laknat Allah atas mereka- disebabkan karena kejahilan mereka hingga mereka tidak memiliki kepastian (ketentuan) dan kekufuran mereka tidak memiliki batas bahkan, perkataan dan kesesatan mereka tersebar luas. Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa Isa adalah Ilâh. </em><em>Ada</em><em> pula yang berkeyakinan bahwa ia sekutu (Allah) dan ada pula yang berkeyakinan bahwa anak-Nya. Mereka berkelompok banyak sekali dan masing-masing memiliki pendapat yang berbeda-beda dan bermacam-macam. Alangkah indahnya sebagian ahli kalam yang menyatakan: ‘Seandainya sepuluh orang Nashara berkumpul, niscaya mereka terpecah menjadi sebelas pendapat.&#8217;<strong>(Lihat Ibnu Katsir 2/349).</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Makna ‘kalimat&#8217; dan ‘ruh dari Allah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya,<em> ‘Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam adalah utusan </em><em>Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.&#8217; <strong>(QS; An- Nisa&#8217; 171).</strong></em><strong><em></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=50&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/07/27/nabi-isa-adalah-kalimat-dan-ruh-dari-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perayaan 1 Muharram (Tahun Baru Islam?)</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/perayaan-1-muharram-tahun-baru-islam/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/perayaan-1-muharram-tahun-baru-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 15:41:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 049]]></category>
		<category><![CDATA[Perayaan Muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Soal:
Insya Allah, hari sabtu nanti kita kita telah masuk pada tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam. Daan bahwa dapat dipastikan awal tahun tersebut akan dimeriahkan dengan beragam acara keagamaan dan hiburan (pawai, gerak jalan, dll) oleh berbagai organisasi keIslaman. Pertanyaannya, apakah benar ada perayaan tahun baru (Muharram) dalam Islam? Jika kita memeriahkan acara tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=26&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Soal:<br />
</span></strong><span>Insya Allah, hari sabtu nanti kita kita telah masuk pada tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam. Daan bahwa dapat dipastikan awal tahun tersebut akan dimeriahkan dengan beragam acara keagamaan dan hiburan (pawai, gerak jalan, dll) oleh berbagai organisasi keIslaman. Pertanyaannya, apakah benar ada perayaan tahun baru (Muharram) dalam Islam? Jika kita memeriahkan acara tersebut dengan tujuan <em>muhasabah </em>(intropeksi) dan sebagai bentuk syiar keIslaman, apakah dianjurkan? (Hamba Allah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span>Jawab:<br />
</span></strong><span>Kekeliruan besar yang banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi yang berkecimpung dalam medan dakwah saat ini, adalah <em>mentarbiyah</em> (mendidik) para pengikut-pengikutnya diatas pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama yang hanif ini. Bahkan tidak jarang dengan pemahaman yang bertentangan dengan maksud dan tujuan dari agama itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Sebutlah diantara beberapa pemahaman atau pentarbiyahan yang keliru tersebut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Memandang rendah urusan-urusan yang berkaitan dengan aqidah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Menanamkan budaya taklid dan ta’assub terhadap satu mazhab dari mazhab-mazhab yang ada.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Mendahulukan <em>ra’yu </em>(akal) dan <em>qiyas</em> (Analogi) yang rusak dari nash-nash yang jelas lagi shahih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span>Menghalalkan segala <em>wasilah/perantara</em> (termasuk wasilah bid’ah) untuk mencapai tujuan yang masyru’.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                    &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span>Perayaan satu Muharram (tahun baru hijriah) adalah salah satu buah dari pemahaman keliru tersebut. Dalam Islam, perayaan awal tahun Hijriyah (termasuk perayaan Milad, baik itu Milad untuk nabi, wali, organisasi atau milad-milad lainnya) adalah bid’ah yang tidak pernah diamalkan dan diajarkan oleh Rasul Saw kepada para pengikut-pengikutnya. Padahal Rasul Saw bersabda:</span></p>
<p><em>Man &#8216;amila &#8216;amalan laisa &#8216;alaihi amruna fahuwa roddun</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Artinya: Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka akan ditolak. (<em>HR. Bukhari 2697, Muslim 12/16</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;     &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span style="position:absolute;z-index:-4;left:0;margin-left:36px;margin-top:25px;width:542px;height:39px;"><img src="/DOCUME~1/Garasi/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" alt="" width="542" height="39" /></span><!--[endif]--><span>Rasul Saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>wa iyyakum wa muhdatsatil umuri fa in kullu muhdatsatin bidhah. wa kulla bidh&#8217;atin dholalah</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Artinya: Dan jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (<em>HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;--></p>
<table style="height:13px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="664">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="height:36px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="568">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span><span> </span>Perayaan awal tahun baru hijriah bukan sekedar tidak memiliki sandaran dalil, tetapi lebih dari itu, ia adalah <em>perbuatan tasyabbuh</em> (menyerupai atau meniru-niru) kepada syiar agama nashrani yaitu perayaan tahun baru masehi. Padahal Rasul Saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em>Man tashabbaha biqaumin fahuwa minhum.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span style="position:relative;z-index:-3;"><span style="position:absolute;left:360px;top:-19px;width:235px;height:60px;"><img src="/DOCUME~1/Garasi/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" alt="" width="235" height="60" /></span></span><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Artinya: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, mak ia adalah bagian dari mereka. (<em>HR. Ahmad 2/50, Abu Dawud 4/314. Sanadnya dianggap jayyid (baik) oleh Ibnu Taimiyyah dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahihul Jami’ 6149)</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Ibnu Taimiyah berkata: “<em>Nabi Saw mempunyai khutbah-khutbah, perjanjian-perjanjian,peristiwa-peristiwa dihari yang sangat banyak, seperti hari perang Badar, perang Hunain, perang Khandaq, Fathu Makkah, hijrahnya beliau memasuki kota Madinah, dan ceramah-ceramah beliau yang berisi penjelasan tentang pondasi-pondasi agama. Tapi semuanya tidak menyebabkan hari-hari itu sebagai ied (perayaan), dan hal semacam ini (menjadikan kejadian-kejadian tertentu sebagai perayaan) hanya dilakukan oleh orang-orang Nasrani yang menjadikan hari-hari yang dilalui Isa As sebagai perayaan, atau orang-orang Yahudi. Ied (perayaan) adalah syariat. Maka apa yang disyariatkan oleh Allah adalah mesti diikuti dan jika tidak disyariatkan, maka tidak boleh mengada-ada didalam agama ini</em>”. (Lihat Iqtidla Ash-Shiratal Mustaqim 2/614-615).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Perayaan Tahun Baru Hijriah Dalam Rangka Muhasabah diri (Intropeksi diri) atau Sebagai Wasilah (sarana) Syiar Islam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Adapun merayakan tahun baru dengan tujuan muhasabah dan sebagai sarana syiar Islam adalah sama terlarangnya dengan perayaan tahun baru itu sendiri. Karena telah melakukan <em>taqarrub </em>(pendekatan diri) kepada Allah Swt dengan wasilah yang bid’ah. Allah Swt berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Artinya: <em>Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?</em>. (<strong>QS. 26;21</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Ibnu Mas’ud Ra ketika melihat orang-orang di masjid bertasbih, bertakbir dan bertahlil dengan menggunakan kerikil-kerikil kecil dan mereka berhujjah bahwa mereka tidak menginginkan kecuali kebaikan. Ia berkata: “<em>Betapa banyak peminat kebaikan tetapi ia tidak mendapatkannya</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;--></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><!--[if !vml]--><span>Muhasabah tidak memiliki waktu yang terbatas atau waktu-waktu tertentu, muhasabah terbatas atau waktu-waktu tertentu, muhasbah ada disetiap waktu dari kehidupan muslim. Justru muhasabah, kata ulama-ulama adalah “<em>lebih tepat dilakukan ketika ia berada seorang diri dibanding ditempat-tempat keramaian</em>”. Imam Mawardi Ra berkata tentang muhasabah diri: “<em>Hendaklah dimalam hari ia memikirkan atau mengoreksi amalan-amalan yang dilakukannya di siang hari, karena pada waktu malam lebih banyak menimbulkan lintasan-lintasan pemikiran dan lebih banyak menghimpun daya pikir</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span><span> </span>Tidak berbeda dengan Imam Mawardi, Ibnu Qayyim menasehatkan hal serupa: “<em>Diantara muhasabah yang paling bermanfaat adalah seseorang yang hendak tidur barang sejam sebelumnya memuhasabah dirinya terhadap kerugian dan keuntungan yang ia dapatkan dalam sehariannya</em>”. (<strong>lihat Ar-Ruh 79</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span>Kesimpulan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span><span> </span>Perayaan 1 Muharram atau perayaan tahun baru hijriah bukan dari ajaran Islam. Dan hendaknya setiap muslim menjauh dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. <em>Wallahu ‘Alam&#8230;</em></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=26&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/perayaan-1-muharram-tahun-baru-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/Garasi/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/Garasi/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image007.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Qidam sifat Allah?</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/qidam-sifat-allah/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/qidam-sifat-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 15:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 075]]></category>
		<category><![CDATA[Qidam sifat Allah?]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alikhlash.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Soal:
Di beberapa mata pelajaran keagamaan, disana kami mendapatkan sifat Qidam bagi Allah. Apa yang dimaksud dengan sifat qidam tersebut dan apakah benar ia termasuk dari sifat – sifat Allah? (Hamba Allah)
Jawab:
 Dalam kamus – kamus Arab kata Qidam adalah lawan kata dari baru, yang bermakna; yang dahulu (lama). (Lihat Lisanul Arab 5/3552, Qamus Al – [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=16&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Soal:</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><em>Di beberapa mata pelajaran keagamaan, disana kami mendapatkan sifat Qidam bagi Allah. Apa yang dimaksud dengan sifat qidam tersebut dan apakah benar ia termasuk dari sifat – sifat Allah? (Hamba Allah)</em></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Dalam kamus – kamus Arab kata Qidam adalah lawan kata dari baru, yang bermakna; yang dahulu (lama). </span><span><strong>(Lihat Lisanul Arab 5/3552, Qamus Al – Muhith 3/506, Mukhtar Ash-Shihhah hal. 525, dan lainnya).</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Sedang definisi Qidam untuk sifat Allah menurut ahli kalam adalah “</span><span><em>Bahwa Allah Ta’ala tidak ada awal untuk keberadaannya dan IA tidak didahului dengan ketidak-adaan, adalah Allah ada dan tidak ada sesuatupun selain diri-Nya, kemudian IA menciptakan makhluk</em></span><span>” </span><span><strong>(Iqtinash Al-Awaly Min Iqtishad Al-Ghazali, oleh DR. Muhammad Rabi’ Jauhari hal. 73).</strong></span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Kata Qidam / Qadim dalam Al – Qur’an dan Sunnah</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Ada empat tempat penyebutan kata </span><span><em>Qadim</em></span><span> dalam Al – Qur’an yaitu dalam surat  (</span><span><em>Qs. Yusuf: 95, Yasin: 39, Al – Ahqaf:11, dan Asy – Syu’ara:75 dsn 76</em></span><span>). Lafadh </span><span><em>Qadim</em></span><span> yang ada pada empat tempat tersebut menunjukkan pada sifat bagi makhluk. (</span><span><em>Kekeliruan yang dahulu, sebagai bentuk tanda yang tua, dusta yang lama, dan nenek moyangmu yang dahulu</em></span><span>).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Sedang didalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw apabila masuk masjid beliau berdoa: (</span><span><strong>Artinya</strong></span><span>): “</span><span><em>Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah – Nya yang mulia dan dengan kekuasaannya yang Qadim (terdahulu) dari syaithan yang terkutuk</em></span><span>”. (HR. Abu Dawud) lafadh </span><span><em>Qadim</em></span><span> pada hadits ini menunjukkan pada sifat bagi kekuasaan Allah.</span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Manhaj Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat 	Allah</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Manhaj (</span><span><em>metode</em></span><span>) Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama Allah (</span><span><em>Asmaul Husna</em></span><span>) dan sifat – sifat – Nya adalah menetapkan nama – nama dan sifat – sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt untuk diri – Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul – Nya Saw, tanpa mengubah, tanpa meragukan, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat permisalan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Intinya, nama – nama Allah dan sifat – Nya adalah bersifat </span><span><em>taufiqi</em></span><span>. Tidak ada ruang untuk berpendapat atau ber – ijtihad di dalamnya. (</span><span><em>Untuk mengetahui manhaj ahlus sunnah dalam asma’ dan sifat ini lihat “Aqidah At- Tauhid” oleh DR. Shalih Bin Fauzan hal. 63</em></span><span>). </span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Qidam, sifat dari sifat – sifat Allah?</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Tidak terdapat di dalam ayat Al – Qur’an bahwa Allah menamai atau mensifati diri – Nya dengan </span><span><em>Qadim</em></span><span> atau </span><span><em>Qidam</em></span><span>. Begitu juga tidak terdapat di dalam sunnah bahwa Rasulullah Saw menetapkan sifat </span><span><em>Qidam</em></span><span> Allah Ta’ala. Jika kita konsisten dengan metode ahlus sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat Allah seperti yang kami sebutkan di atas maka secara tegas kita katakan bahwa </span><span><em>Qidam</em></span><span> bukanlah nama atau sifat dari Allah Swt.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Al – Qadi Ibnu Abi Al – Izz Al – Hanafy dalam </span><span><em>Syarh Aqidah ath – Thahawiyah</em></span><span> berkata: “</span><span><em>para ahli kalam telah memasukkan kata Al – Qidam didalam nama – nama Allah, padahal ia bukanlah nama dari nama – nama Allah&#8230;</em></span><span>”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Ar – Raghib Al – Ashfahany dalam kitabnya </span><span><em>Al – Mufradat</em></span><span> berkata: “</span><span><em>Tidak terdapat satu kata pun dari Al – Qur’an maupun atsar yang shahih yang menunjukkan bahwa Qadim itu adalah sifat Allah, para ahli kalam menggunakan dan mensifatkan Allah dengan hal itu</em></span><span>”.</span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Allah adalah Al – Awwal (yang awal)</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Untuk menunjukkan bahwa Al</span><span>lah tidak didahului oleh apapun, yang keberadaannya tidak ada permulaannya maka Allah memperkenalkan diri – Nya kepada kita bahwa Dia adalah </span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> (</span><span><em>bukan dengan Qidam</em></span><span>).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Allah Swt berfirman:</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">
<p><span><strong>Artinya:</strong></span><span> </span><span><em>Dialah yang awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan dia Maha mengetahui segala sesuatu</em></span><span>. (Q.S: Al – Hadid: 3).</span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Al – Khatthabi berkata: “</span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> berarti yang mendahului segala sesuatu, yang ada dan sudah ada sebelum  adanya makhluk, yang karena itulah Dia berhak menyandang predikat pertama karena keberadan – Nya itu, yang tidak didahului dan dibarengi oleh apapun.” (Sya’n ad – Du’a:87).</span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Al – Awwal serupa dengan Qidam</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span> Akan muncul sebuah pertanyaan: Bukankah istilah </span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> ada keserupaan dengan istilah </span><span><em>Qidam</em></span><span>. Lalu mengapa kata Qidam tidak ditetapkan saja sebagai sifat dari sifat – sifat Allah? Jawabnya: </span><span><strong>yang pertama</strong></span><span>, karena kita konsisten dengan manhaj Ahlus sunnah. </span><span><strong>Yang kedua</strong></span><span>, jika benar sifat </span><span><em>Al – Awwal</em></span><span> serupa dengan </span><span><em>Qidam</em></span><span> (</span><span><em>padahal keduanya memang ada perbedaan, seperti yang dinyatakan oleh Abu Al – Izz Al – Hanafy</em></span><span>) maka tetap ia tidak dapat digunakan untuk menetapkan nama atau sifat Allah. Al – Khatthabi berkata: “Analogi tidak berlaku terhadap nama – nama Allah, dalam pengertian, menyejajarkan sesuatu dengan sejenisnya, dengan pertimbangan aturan bahasa dan logika kalimatnya”. (</span><span><em>Sya’n ad – Du’a: 111</em></span><span>). </span></p>
<ul>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify"><strong>Kesimpulan</strong></p>
</li>
</ul>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Qidam bukanlah salah satu dari sifat – sifat Allah. Wallahu ‘Alam.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=16&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/05/06/qidam-sifat-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dukun tidak tahu Ilmu dan alam ghaib</title>
		<link>http://alikhlash.wordpress.com/2008/04/27/dukun-tidak-tahu-ilmu-dan-alam-ghaib/</link>
		<comments>http://alikhlash.wordpress.com/2008/04/27/dukun-tidak-tahu-ilmu-dan-alam-ghaib/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Apr 2008 01:06:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnudahn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Dukun]]></category>
		<category><![CDATA[Edisi 052]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/alikhlash/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Soal:
Umumnya para dukun yang kami ketahui, mereka mampu mengetahui kejadian-kejadian yang akan datang (seperti siapa yang bakal keluar menjadi kepala desa, membongkar pelaku pencurian, serta kejadian-kejadian lain yang bakal menimpa). Pertanyaannya, apa benar dukun-dukun dan para tukang ramal itu mengetahui ilmu ghaib? Bagaimana pandangan syariat terhadap ilmu yang dimiliki dukun tersebut, dan bagaimana pula hokum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=42&subd=alikhlash&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><strong>Soal:</strong><br />
Umumnya para dukun yang kami ketahui, mereka mampu mengetahui kejadian-kejadian yang akan datang (seperti siapa yang bakal keluar menjadi kepala desa, membongkar pelaku pencurian, serta kejadian-kejadian lain yang bakal menimpa). Pertanyaannya, apa benar dukun-dukun dan para tukang ramal itu mengetahui ilmu ghaib? Bagaimana pandangan syariat terhadap ilmu yang dimiliki dukun tersebut, dan bagaimana pula hokum mendatangi dukun? (Hamba Allah).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Jawab:</strong><br />
Kami katakan kepada para dukun dan pada setiap orang yang mengaku mampu mengetahui ilmu ghaib, &#8220;Cis, sekali-sekali kamu tidak akan melampaui batas kemampuanmua sendiri!&#8221; (<em>Ini adalah ucapan Nabi SAW kepada Ibnu Shayyad Al-Yahudi yang mengaku dirinya pandai meramal dan mengaku sebagai seorang Nabi, Lihat HR. Al-Bukhari 1355</em>).<br />
Dan kami katakan kepada setiap orang yang lemah imannya, yang mengadukan urusannya kepada dukun dan tukang ramal, yang tertipu dengan ungkapan dusta keduanya, &#8220;Bukalah mata dan pendengaranmu baik-baik, bahwa tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi ini yang mengetahui perkara ghaib melainkan Allah semata&#8221;</p>
<p><strong>Ilmu Ghaib Hanya Untuk Allah</strong><br />
Ilmu Ghaib hanya milik Allah.  Malaikat, Jin, Nabi dan para wali-wali Allah tidak mengetahui Ilmu Ghaib. Allah berfirman:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;font-family:'Traditional Arabic';">قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ </span></p>
<p align="justify">Artinya: &#8220;Katakanlah: tidak ada seoragpun dilangit dan dibumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah&#8221; (QS. An-Naml 65).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:20pt;font-family:'Traditional Arabic';">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدً </span><span style="font-size:20pt;font-family:'Traditional Arabic';">إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا</span><span style="font-size:20pt;font-family:'Traditional Arabic';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:20pt;font-family:'Traditional Arabic';"> </span></p>
<p align="justify">Namun terkadang, Allah memperlihatkan apa yang dikehendaki-Nya untuk suatu hikmah dan kemaslahatan. (QS. Al-Jin 26-27).</p>
<p><strong>Malaikat Tidak Mengetahui Yang Ghaib</strong></p>
<p align="justify">Malaikat tidak mengetahui yang ghaib, dalil yang menunjukkan demikian adalah firman Allah, (Artinya: &#8220;Dan Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman; &#8216;Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang benar&#8217;,  Mereka (para malaikat) menjawab; &#8216;Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau telah ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana&#8217;.&#8221; (Al-Baqarah 31-32).<br />
Jika para malaikat tahu ilmu ghaib, maka pastilah mereka bisa menjawab benda-benda yang Allah perintah kepada mereka untuk menyebutnya.</p>
<p><strong>Jin Tidak Mengetahui Yang Ghaib</strong></p>
<p align="justify">Jin tidak mengetahui yang ghaib, dengan dalil ketidakmampuan jin mengetahui kematian nabi Sulaiman. Allah berfirman:<br />
Artinya: &#8220;Maka tatkala kami telah menetapkan kepada mereka (para jin) kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu, bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan&#8221;.<br />
Para jin pernah bekerja untuk Nabi Sulaiman. Dimana mereka membuat apa saja yang dikehendaki oleh Sulaiman berupa gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besar seperti kolam, dll. Pernah para jin itu bekerja langsung dibawah pengawasan Nabi Sulaiman dimana ketika itu beliau bersandar pada tongkatnya. Ketika dalam pengawasan itu (dalam keadaan berdiri sambil bersandar pada tongkatnya) Allah mencabut ruh Nabi Sulaiman. Para Jin tidak mengetahui akan kematian Nabi Sulaiman, mereka tetap bekerja keras tanpa mengenal istirahat lantaran takut dengan Nabi Sulaiman. Hingga kemudian Allah mengutus rayap-rayap untuk memakan tongkat Sulaiman. Ketika Nabi Sulaiman tersungkur, barulah jin-jin itu tahu bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Nabi Tidak Mengetahui Yang Ghaib:</strong><br />
Para Nabi tidak mengetahui yang ghaib. Malaikat pernah mendatangi Nabi Ibrahim dan Nabi Luth dalam bentuk manusia. Kedua Nabi tersebut tidak mengetahui bahwa yang datang itu adalah malaikat. Adapun Ibrahim, ketika menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang kepada tamunya dan tamu tersebut tidak mau menyentuh sedikitpun dari makanan itu, maka muncullah rasa takut Nabi Ibrahim. Lalu tamu (malaikat) itu berkata, &#8220;Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth&#8221; (QS. Hud 70).</p>
<p align="justify">
<p align="justify">Sedang Luth ketika didatangi oleh kaumnya dan mereka menghendaki para tamu yang ada dirumah Luth. Luth berkata kepada kaumnya, &#8220;Seandainya aku ada kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan). Lalu tamu-tamu itu berkata, ‘Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu (malaikat). Sekali-sekali mereka tidak dapat mengganggumu’.&#8221; (QS. Hud 80-81).<br />
Andai para Nabi itu mengetahui yang ghaib, tentulah mereka mengenal siapa jati diri tamu itu sebenarnya, yaitu malaikat.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>Para Wali Tidak Mengetahui Yang Ghaib</strong><br />
Para wali tidak mengetahui yang ghaib. Aisyah dan ayahnya, Abu Bakar Ra. adalah seutama-utama wali Allah. Namun ketika terjadi fitnah perselingkuhan yang menimpa ‘Aisyah atau dikenal dengan ‘Haditsul Ifki’, Aisyah tidak tahu menahu tentang desas-desus berita tersebut hingga diberitahukan oleh Ummu Misthah. Begitu juga Abu Bakar, ia tidak dapat mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya sehingga turun wahyu kepada Rasulullah SAW mengenai pembebasan Aisyah dari tuduhan yang mengada-ada itu.</p>
<p><strong>Dukun Tahu Yang Ghaib</strong><br />
Dibumi manakah dukun itu berpijak dan langit apakah yang menaunginya atau dari jenis golongan apakah dukun itu, hingga ia mengakui dan didaulat oleh orang-orang yang lemah iman bahwa ia mengetahui yang ghaib?! Jika bahan dasarnya tercipta dari tanah, maka makhluk yang mencapai tingkat predikat ‘Nabi’ pun tidak mengetahui yang ghaib. Jika bahan dasarnya dari api, maka makhluk sejahat iblis (syaithan) pun tidak mengetahui yang ghaib, dan jika bahan dasarnya dari cahaya maka makhluk Allah yang bernama malaikat juga tidak mengetahui yang ghaib.<br />
Dukun hanyalah seorang pembual, menipu orang-orang dengan tipu daya dan permainan sihirnya, ia sering bersumpah dengan kebodohan. Jikapun mulutnya berkomat-kamit membaca Al-Qur’an atau ragam sholawatan maka ia hanya berpura-pura untuk lebih meyakinkan para mangsanya.</p>
<p><strong>Ucapannya Terkadang Benar?</strong><br />
Tidak perlu heran dengan keterangan para dukun dan tukang ramal yang terkadang perkataannya berbetulan dengan kenyataan, karena pengakuan mereka tentang yang ghaib, merupakan bisikan syaithan. Kesemuanya itu didapatkan melalui permohonan bantuan setan-setan yang mencuri dengar dari langit. Mereka mencuri kalimat dari ucapan Malaikat, lalu disampaikan ketelinga dukun, dan dukun tersebut berbohong dari kalimat (yang diterimanya itu) dengan seratus kali kebohongan. Lalu orang-orang mempercayainya disebabkan oleh satu kalimat yang benar tersebut yang didengar oleh setan dari langit. Karenanya, dukun dan tukang ramal seringkali memberikan keterangan yang sulit dimengerti, tidak jelas dan banyak mengandung kemungkinan.</p>
<p><strong>Haram Mendatangi Dukun Dan Tukang Ramal</strong></p>
<p align="justify">Rasulullah SAW melarang keras mendatangi dukun dan tukang ramal. Rasulullah SAW bersabda tentang orang yang mendatangi dukun:</p>
<p align="justify">Artinya: ‘Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW’. (<em>Shahih. HR. Abu Dawud 4904, An-Nasai dalam Al-Kubra, At-Tirmidzi 135, Ibnu Majah 639 dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Al-Irwa’ 2006</em>).<br />
Sedang bahaya mendatangi tukang ramal, adalah sabda Rasulullah SAW:<br />
‘Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari’. (<em>HR. Muslim 2230</em>).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/alikhlash.wordpress.com/42/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/alikhlash.wordpress.com/42/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alikhlash.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alikhlash.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alikhlash.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alikhlash.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alikhlash.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alikhlash.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alikhlash.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alikhlash.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alikhlash.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alikhlash.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alikhlash.wordpress.com&blog=2804087&post=42&subd=alikhlash&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alikhlash.wordpress.com/2008/04/27/dukun-tidak-tahu-ilmu-dan-alam-ghaib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6d471ce657332d709ac439bf393df1b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ibnudahn</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>