• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • November 2012
    M T W T F S S
    « Jul   Mar »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  
  • Meta

  • Kajian Salaf

Perayaan 1 Muharram (Tahun Baru Islam?)

Soal:
Insya Allah, hari Kamis nanti kita kita telah masuk pada tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam. Daan bahwa dapat dipastikan awal tahun tersebut akan dimeriahkan dengan beragam acara keagamaan dan hiburan (pawai, gerak jalan, dll) oleh berbagai organisasi keIslaman. Pertanyaannya, apakah benar ada perayaan tahun baru (Muharram) dalam Islam? Jika kita memeriahkan acara tersebut dengan tujuan muhasabah (intropeksi) dan sebagai bentuk syiar keIslaman, apakah dianjurkan? (Hamba Allah).

Jawab:
Kekeliruan besar yang banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi yang berkecimpung dalam medan dakwah saat ini, adalah mentarbiyah (mendidik) para pengikut-pengikutnya diatas pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama yang hanif ini. Bahkan tidak jarang dengan pemahaman yang bertentangan dengan maksud dan tujuan dari agama itu sendiri.

Sebutlah diantara beberapa pemahaman atau pentarbiyahan yang keliru tersebut:

1. Memandang rendah urusan-urusan yang berkaitan dengan aqidah.

2. Menanamkan budaya taklid dan ta’assub terhadap satu mazhab dari mazhab-mazhab yang ada.

3. Mendahulukan ra’yu (akal) dan qiyas (Analogi) yang rusak dari nash-nash yang jelas lagi shahih.

4. Menghalalkan segala wasilah/perantara (termasuk wasilah bid’ah) untuk mencapai tujuan yang masyru’.

Perayaan satu Muharram (tahun baru hijriah) adalah salah satu buah dari pemahaman keliru tersebut. Dalam Islam, perayaan awal tahun Hijriyah (termasuk perayaan Milad, baik itu Milad untuk nabi, wali, organisasi atau milad-milad lainnya) adalah bid’ah yang tidak pernah diamalkan dan diajarkan oleh Rasul Saw kepada para pengikut-pengikutnya. Padahal Rasul Saw bersabda:

Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddun

Artinya: Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka akan ditolak. (HR. Bukhari 2697, Muslim 12/16).

Rasul Saw bersabda:

wa iyyakum wa muhdatsatil umuri fa in kullu muhdatsatin bidhah. wa kulla bidh’atin dholalah

Artinya: Dan jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Perayaan awal tahun baru hijriah bukan sekedar tidak memiliki sandaran dalil, tetapi lebih dari itu, ia adalah perbuatan tasyabbuh (menyerupai atau meniru-niru) kepada syiar agama nashrani yaitu perayaan tahun baru masehi. Padahal Rasul Saw bersabda:

Man tashabbaha biqaumin fahuwa minhum.

Artinya: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, mak ia adalah bagian dari mereka. (HR. Ahmad 2/50, Abu Dawud 4/314. Sanadnya dianggap jayyid (baik) oleh Ibnu Taimiyyah dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahihul Jami’ 6149).

Ibnu Taimiyah berkata: “Nabi Saw mempunyai khutbah-khutbah, perjanjian-perjanjian,peristiwa-peristiwa dihari yang sangat banyak, seperti hari perang Badar, perang Hunain, perang Khandaq, Fathu Makkah, hijrahnya beliau memasuki kota Madinah, dan ceramah-ceramah beliau yang berisi penjelasan tentang pondasi-pondasi agama. Tapi semuanya tidak menyebabkan hari-hari itu sebagai ied (perayaan), dan hal semacam ini (menjadikan kejadian-kejadian tertentu sebagai perayaan) hanya dilakukan oleh orang-orang Nasrani yang menjadikan hari-hari yang dilalui Isa As sebagai perayaan, atau orang-orang Yahudi. Ied (perayaan) adalah syariat. Maka apa yang disyariatkan oleh Allah adalah mesti diikuti dan jika tidak disyariatkan, maka tidak boleh mengada-ada didalam agama ini”. (Lihat Iqtidla Ash-Shiratal Mustaqim 2/614-615).

Perayaan Tahun Baru Hijriah Dalam Rangka Muhasabah diri (Intropeksi diri) atau Sebagai Wasilah (sarana) Syiar Islam

Adapun merayakan tahun baru dengan tujuan muhasabah dan sebagai sarana syiar Islam adalah sama terlarangnya dengan perayaan tahun baru itu sendiri. Karena telah melakukan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Swt dengan wasilah yang bid’ah. Allah Swt berfirman:

Artinya: Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?. (QS. 26;21).

Ibnu Mas’ud Ra ketika melihat orang-orang di masjid bertasbih, bertakbir dan bertahlil dengan menggunakan kerikil-kerikil kecil dan mereka berhujjah bahwa mereka tidak menginginkan kecuali kebaikan. Ia berkata: “Betapa banyak peminat kebaikan tetapi ia tidak mendapatkannya”.

Muhasabah tidak memiliki waktu yang terbatas atau waktu-waktu tertentu, muhasabah terbatas atau waktu-waktu tertentu, muhasbah ada disetiap waktu dari kehidupan muslim. Justru muhasabah, kata ulama-ulama adalah “lebih tepat dilakukan ketika ia berada seorang diri dibanding ditempat-tempat keramaian”. Imam Mawardi Ra berkata tentang muhasabah diri: “Hendaklah dimalam hari ia memikirkan atau mengoreksi amalan-amalan yang dilakukannya di siang hari, karena pada waktu malam lebih banyak menimbulkan lintasan-lintasan pemikiran dan lebih banyak menghimpun daya pikir”.

Tidak berbeda dengan Imam Mawardi, Ibnu Qayyim menasehatkan hal serupa: “Diantara muhasabah yang paling bermanfaat adalah seseorang yang hendak tidur barang sejam sebelumnya memuhasabah dirinya terhadap kerugian dan keuntungan yang ia dapatkan dalam sehariannya”. (lihat Ar-Ruh 79).

Kesimpulan

Perayaan 1 Muharram atau perayaan tahun baru hijriah bukan dari ajaran Islam. Dan hendaknya setiap muslim menjauh dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Wallahu ‘Alam…

About these ads

4 Responses

  1. jadi doa awal tahun muharram dan doa mengakhiri bulan dzhulhijjah juga ga boleh ya

  2. artikel yg bagus..

    untuk yulia, saya rasa doanya boleh.. tapi untuk merayakan dan saling mengucapkan selamat itu yg ga ada..

  3. afwan, klo ber ijtihad.. daripada perayaan th baru masehi (bukan hijriah) banyak yg liat konser musik dan kembang api, sebagian ulama mengadakan pengajian umum.. sekaligus utk muhasabah.. afwan bukan khusus utk muhasabah tp acaranya di isi muhasabah.. pendapat ustadz gimana ? karna yg belakangan terjadi belakangan seperti itu utk mengurangi kemudharatan di adakanlah pengajian sekaligus muhasabah akhir tahun. syukron

  4. assalamu alaikum,, afwan, yang sebenarnya Islam adalah agama yang lebih mengedepankan maslahah dari pd mudharat. yg jadi pertanyaan, apakh salah jika kita membaca al-Qur’an?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: