• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • August 2008
    M T W T F S S
    « Jul   Sep »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Meta

  • Kajian Salaf

Peringatan Isra’ Mi’raj

Soal: Seperti yang tertera di tanggalan, bahwa Isra’ dan Mi’raj itu jatuh pada hari rabu, tanggal 30 Juli 2008 M / 27 Rajab 1429 H. Pertanyaan kami, apakah benar 27 Rajab itu terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj? dan bagaimana pula hukum memperingati hari penting lagi bersejarah itu?

Jawab:Isra’ dan Mi’raj adalah dua kejadian penting yang menakjubkan. Keduanya adalah haq (kebenaran) yang wajib diimani oleh orang yang beriman sejak peristiwa itu terjadi dan sejak diberitakan oleh Rasulullah saw. Isra’ dan Mi’raj adalah tergolong perkara agama yang jelas, dan mengingkarinya adalah kafir.

Isra’ artinya perjalanan di malam hari. Yaitu, diperjalankannya Rasulullah r di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Sedang Mi’raj artinya naik. Yaitu, naiknya Rasulullah r pada beberapa lapisan langit (tujuh lapis langit) lalu diangkat ke Sidratul Muntaha dan padanya diwajibkan shalat lima waktu. Pada malam tersebut beliau dimasukkan ke dalam Surga yang di dalamnya terdapat kubah mutiara yang tanahnya berupa minyak misik. Kemudian Nabi r turun, sehingga beliau kembali ke Mekkah di pagi buta, lalu beliau mengerjakan shalat Shubuh [Lihat Shahih Bukhari].

Tentang kejadian Isra’, Allah swt berfirman:

Artinya : ‘Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi.

KAPAN TERJADINYA MALAM ISRA’ DAN MI’RAJ ?

Tidak ada keterangan pasti tentang itu; baik hari, tanggal, maupun bulannya. Hal ini terjadi lantaran tidak ada satu dalil shahih pun yang menyebutkan kapan terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj itu. Al-Hâfidh Ibnu Hajar di dalam ‘Fathul Bâri 7/140′ berkata : ‘Bahwa perbedaan ulama dalam hal ini terdapat lebih dari 10 pendapat.’

Dan kepada Anda, wahai pembaca budiman, kami nukilkan beberapa pendapat tersebut. Segelintir dari ulama ada yang berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi sebelum di-angkatnya beliau r menjadi nabi. Namun, pen-dapat ini ditolak oleh Ibnu Hajar dan dikatakan sebagai pendapat yang syadz (ganjil). Sedang mayoritas ulama berpendapat bahwa hal itu terjadi setelah diangkatnya beliau r menjadi nabi dan sebelum berhijrahnya ke Madinah. Namun, mereka tidak sepakat dalam penentuan bulan-nya. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa ia terjadi 1 tahun sebelum hijrah dan ini adalah pendapat Ibnu Sa’id dan lainnya dan dianggap tepat oleh Imam an-Nawawie. Ada yang berpendapat 8 bulan sebelum hijrah demikian pendapat Ibul Jauzi, 6 bulan menurut Abu Rabi’, 1 tahun 3 bulan menurut Ibnu Faris, 1 tahun 5 bulan menurut as-Suddi, 18 bulan menurut Ibnu Sa’ad, 3 tahun sebelum hijrah seperti yang telah diceritakan oleh Ibnul Atsir, atau 5 tahun…. [Lihat Fathul Bâri 7/140-141].

Dari sekian banyak pendapat di atas, kebanyakan ulama berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi 1 tahun sebelum hijrah, tepatnya pada bulan Rabi’ul Awwal, di antara mereka yang berpendapat seperti ini adalah az-Zuhri dan Urwah dan didukung oleh Imam an-Nawawie di dalam kitabnya ‘Syarh Muslim’ dan begitu juga dalam fatwa-fatwanya. [Lihat Maqâsidul Islam oleh Syaikh Shâlih bin Abdul Aziz hal. 334].

Sedang yang  popular di kalangan masyarakat kita, bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab. Dan itu adalah pendapat dari al-Hâfidz Abdul Ghani al-Maqdisi.

Kesimpulannya, manapun pendapat yang lebih banyak didukung oleh para ulama atau manapun pendapat yang lebih popular di tengah ummat, maka ketahuilah bahwa pendapat-pendapat tersebut tidak ada satu pun yang disokong dengan hadits-hadits yang shahih.

MEMPERINGATI ISRA’ DAN MI’RAJ

Jika hari, tanggal, dan bulan terjadinya Isra’ Mi’raj adalah hal yang diperselisihkan oleh ulama, dan tidak adanya hadits shahih yang menerangkan waktunya, lalu mengapa orang-orang merasa aman dalam ‘memperingati malam Isra’ – Mi’raj‘ tersebut ? Bahkan men-dakwakan bahwa hal itu adalah perbuatan yang mulia.

Andaipun ada hadits shahih yang mene-tapkan dan menentukan waktu terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj, namun tetaplah tidak dibenarkan seorang muslim mengadakan peringatan tersebut. Karena, peringatan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah r dan para shahabatnya, dan juga tidak pernah di-kenal pada masa tabi’in.

Ketahuilah, bahwa semua ibadah yang tidak dilakukan oleh ash-shalafus ash-shalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in atau mereka tidak menukilnya (tidak meriwayatkannya) atau tidak menukilnya dalam kitab-kitab mereka, atau tidak pernah menyinggung permasalahan tersebut dalam majelis-majelis mereka, maka jenis ibadah itu adalah bid’ah, dengan syarat faktor penuntut untuk mengerjakan ibadah itu ada dan faktor penghalangnya tidak ada. [Lihat Qawâid Ma'rifat al-Bida' oleh Muhammad bin Husain al-Jizâni, pada kaidah bid'ah yang keempat].

Dan ketahui pulalah, bahwa banyak kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di masa Rasulullah saw, namun semuanya tidak menyebabkan para shahabat dan tabi’in memperingati hari-hari tersebut. Ibnu Taimiyah dalam ‘Iqtidha ash-Shirâthal Mustaqim 2/614-615′ berkata : ‘Nabi saw mempunyai khutbah-khutbah, perjanjian- perjanjian, peristiwa-peristiwa di hari yang sangat banyak, seperti hari perang Badar, perang Hunain, perang Khandaq, Fathu Makkah, hijrahnya beliau memasuki kota Madinah dan ceramah-ceramah beliau yang berisi penjelasan tentang pondasi-pondasi agama. Tapi semuanya tidak menyebabkan hari-hari itu dijadikan sebagai ied (peringatan).’

Peringatan (perayaan) adalah syari’at, maka apa yang disyari’atkan oleh Allah swt harus diikuti dan jika tidak disyari’atkan maka tidak boleh mengada-ada sesuatu di dalam agama ini. Rasulullah r bersabda :

Artinya : ‘Jauhilah hal-hal yang baru (dalam agama), karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat.’ [Hadits Shahih. HR Abu Dawud 4608 dan Tirmidzi].

Betul, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian itu sesuai dengan apa yang digariskan oleh syari’at.   Wallahu A’lam.

One Response

  1. wah, kalo liat sejarah, ada seorang panglima perang slam yang bernama Salahudin al Ayyubi mengadakan perayaan – perayaan yang berhubungan dengan sejarah Islam yang bertujuan untuk menguatkan kembali semangat umat Islam pada jamannya yang kegiatan itu sampai sekarang masih ada di Indonesia dan negara2 Islam lainnya, seperti peringatan Maulid nabi dengan membaca syair-syair tentang Kemuliaan Nabi Muhammad SAW.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: