• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • May 2008
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Meta

  • Kajian Salaf

Qidam sifat Allah?

Soal:

Di beberapa mata pelajaran keagamaan, disana kami mendapatkan sifat Qidam bagi Allah. Apa yang dimaksud dengan sifat qidam tersebut dan apakah benar ia termasuk dari sifat – sifat Allah? (Hamba Allah)

Jawab:

Dalam kamus – kamus Arab kata Qidam adalah lawan kata dari baru, yang bermakna; yang dahulu (lama). (Lihat Lisanul Arab 5/3552, Qamus Al – Muhith 3/506, Mukhtar Ash-Shihhah hal. 525, dan lainnya).

Sedang definisi Qidam untuk sifat Allah menurut ahli kalam adalah “Bahwa Allah Ta’ala tidak ada awal untuk keberadaannya dan IA tidak didahului dengan ketidak-adaan, adalah Allah ada dan tidak ada sesuatupun selain diri-Nya, kemudian IA menciptakan makhluk(Iqtinash Al-Awaly Min Iqtishad Al-Ghazali, oleh DR. Muhammad Rabi’ Jauhari hal. 73).

  • Kata Qidam / Qadim dalam Al – Qur’an dan Sunnah

Ada empat tempat penyebutan kata Qadim dalam Al – Qur’an yaitu dalam surat (Qs. Yusuf: 95, Yasin: 39, Al – Ahqaf:11, dan Asy – Syu’ara:75 dsn 76). Lafadh Qadim yang ada pada empat tempat tersebut menunjukkan pada sifat bagi makhluk. (Kekeliruan yang dahulu, sebagai bentuk tanda yang tua, dusta yang lama, dan nenek moyangmu yang dahulu).

Sedang didalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw apabila masuk masjid beliau berdoa: (Artinya): “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, dengan wajah – Nya yang mulia dan dengan kekuasaannya yang Qadim (terdahulu) dari syaithan yang terkutuk”. (HR. Abu Dawud) lafadh Qadim pada hadits ini menunjukkan pada sifat bagi kekuasaan Allah.

  • Manhaj Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat Allah

Manhaj (metode) Ahlus Sunnah dalam menetapkan nama – nama Allah (Asmaul Husna) dan sifat – sifat – Nya adalah menetapkan nama – nama dan sifat – sifat yang telah ditetapkan oleh Allah Swt untuk diri – Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul – Nya Saw, tanpa mengubah, tanpa meragukan, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat permisalan.

Intinya, nama – nama Allah dan sifat – Nya adalah bersifat taufiqi. Tidak ada ruang untuk berpendapat atau ber – ijtihad di dalamnya. (Untuk mengetahui manhaj ahlus sunnah dalam asma’ dan sifat ini lihat “Aqidah At- Tauhid” oleh DR. Shalih Bin Fauzan hal. 63).

  • Qidam, sifat dari sifat – sifat Allah?

Tidak terdapat di dalam ayat Al – Qur’an bahwa Allah menamai atau mensifati diri – Nya dengan Qadim atau Qidam. Begitu juga tidak terdapat di dalam sunnah bahwa Rasulullah Saw menetapkan sifat Qidam Allah Ta’ala. Jika kita konsisten dengan metode ahlus sunnah dalam menetapkan nama – nama dan sifat Allah seperti yang kami sebutkan di atas maka secara tegas kita katakan bahwa Qidam bukanlah nama atau sifat dari Allah Swt.

Al – Qadi Ibnu Abi Al – Izz Al – Hanafy dalam Syarh Aqidah ath – Thahawiyah berkata: “para ahli kalam telah memasukkan kata Al – Qidam didalam nama – nama Allah, padahal ia bukanlah nama dari nama – nama Allah…

Ar – Raghib Al – Ashfahany dalam kitabnya Al – Mufradat berkata: “Tidak terdapat satu kata pun dari Al – Qur’an maupun atsar yang shahih yang menunjukkan bahwa Qadim itu adalah sifat Allah, para ahli kalam menggunakan dan mensifatkan Allah dengan hal itu”.

  • Allah adalah Al – Awwal (yang awal)

Untuk menunjukkan bahwa Allah tidak didahului oleh apapun, yang keberadaannya tidak ada permulaannya maka Allah memperkenalkan diri – Nya kepada kita bahwa Dia adalah Al – Awwal (bukan dengan Qidam).

Allah Swt berfirman:

Artinya: Dialah yang awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan dia Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S: Al – Hadid: 3).

Al – Khatthabi berkata: “Al – Awwal berarti yang mendahului segala sesuatu, yang ada dan sudah ada sebelum adanya makhluk, yang karena itulah Dia berhak menyandang predikat pertama karena keberadan – Nya itu, yang tidak didahului dan dibarengi oleh apapun.” (Sya’n ad – Du’a:87).

  • Al – Awwal serupa dengan Qidam

Akan muncul sebuah pertanyaan: Bukankah istilah Al – Awwal ada keserupaan dengan istilah Qidam. Lalu mengapa kata Qidam tidak ditetapkan saja sebagai sifat dari sifat – sifat Allah? Jawabnya: yang pertama, karena kita konsisten dengan manhaj Ahlus sunnah. Yang kedua, jika benar sifat Al – Awwal serupa dengan Qidam (padahal keduanya memang ada perbedaan, seperti yang dinyatakan oleh Abu Al – Izz Al – Hanafy) maka tetap ia tidak dapat digunakan untuk menetapkan nama atau sifat Allah. Al – Khatthabi berkata: “Analogi tidak berlaku terhadap nama – nama Allah, dalam pengertian, menyejajarkan sesuatu dengan sejenisnya, dengan pertimbangan aturan bahasa dan logika kalimatnya”. (Sya’n ad – Du’a: 111).

  • Kesimpulan

Qidam bukanlah salah satu dari sifat – sifat Allah. Wallahu ‘Alam.

About these ads

4 Responses

  1. bagaimana tanggapan pak ustadz mengenai perkataan imam hafiz ibnu hajar dalam

    fathul bari 13/429: ” Qidam-Nya memustahilkan untuk mensifatiNya dengan masuk ke dalam alam, wallahu a’lam.”

    fathul bari 13/462: “Ibnu bathal berkata: al-bukhari mengambil dalil dengan ini bahwa perkataan Allah qodim bagi dzatNya dan berdiri bersama sifat-sifatNya,…”

  2. Saya setuju dengan pendapat Qidam bukan salah satu yang disifatkan kepada Allah, dan kita tak perlu memberikan asma’ Allah dengan perkataan atau nama yang lain. Ini kerana, jika kita bandingkan akidah Islam dan akidah Kristian, terdapat perbezaan yang ketara dari sudut pemberian sifat Allah yang mana Kristian mensifatkan Allah sebagai bapa kepada Makhluk, walaupun nampak logik dan sesuai, kerana atas sifat bapa yang penyayang, namun Allah cuba menemplak umat Kristian dengan sedikit pun tidak mensifatkan dirinya sebagai bapa…. jadi jika mahu menambah tafsiran sifat2 Allah dengan perkataan lain, dibimbangi tafsiran tersebut akan sampai kepada mensifatkan Allah sebagai bapa……. minta dihentikan setakat yang ditunjukkan oleh Al-Quran dan Sunnah….. kerana kadangkala agamawan ini terlalu seronok nak menonjolkan kaedah mengenal sifat tuhan sehinggakan tidak tahu yang mereka telah mensifatkan Allah seperti akidah atau kepercayaan agama lain yang lekeh, contohnya dalam agama Hindu, the God is the words of God, so Allah tidak bertempat,,,, Allah berada dimana2…. sedangkan banyak keterangan dalam AlQuran dan Sunnah yang sebaliknya… sesuai dengan kemuliaan Allah….wallahualaim…

  3. Saya mau nanya masalah lathifah yg 7,
    @tentang lathifatur roh,warnanya pa?
    @qidam wilayahnya siapa? Asalnya dari apa?
    Mohon penjelasannya.Trmksh

  4. makasih infonya sangat menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: