• Buletin Al-Ikhlash

    Diterbitkan Oleh:
    Seksi Dakwah Yayasan Pondok Pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember.
    Penasehat:
    Ust.Ahmad Amar Syarif
    Pemimpin Redaksi:
    Ust. Muhammad Ayyub
    Pemimpin Usaha:
    Ibnu Muchsin Al-Rosi
    Dewan Redaksi:
    Ust. Ahmad Amar Syarif,
    Ust. Muhammad Ayyub,
    Ust. Hamzah Amali,
    Ust. Abdullah Muid.
    Sekretaris:
    Abu Owais
    Keuangan:
    Fredy
    Sirkulasi dan Distribusi:
    Abu Ismail, Ihsan,
    Alamat Redaksi:
    Pondok Pesantren Al-Ikhlash No.76, Dukuh Dempok, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, Indonesia. Telp (0336) 621286. Tromol Pos 01.
    Info Berlangganan:
    Infaq Rp.200/lembar Untuk luar kota pemesanan minimal @50 eks =Rp 50.000/bulan (Jawa) & Rp 55.000/bulan (Luar Jawa) - Sudah termasuk ongkos kirim. Rekening 8910152361 BCA a/n A.Hadiq. Hub: 081342298660.
    Layangkan Pertanyaan:
    Via SMS dan Telp ke (0331) 7804690
  • April 2014
    M T W T F S S
    « Mar    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Meta

  • Kajian Salaf

Hukum berhijab (berjilbab)

Beberapa penanya dari wanita muslimah menyatakan keprihatinannya kepada kami tentang kenyataan banyaknya wanita muslimah yang masih enggan untuk ber-hijab (berjilbab). Dengannya mereka meminta kepada kami untuk menjelaskan tentang kewajiban berjilbab dan syarat-syarat busana muslimah yang sesuai syari’at Islam. [Redaksi]

Jawab :

Ketahuilah wahai para wanita muslimah, bahwa yang mem-bedakan antara manusia dengan hewan adalah faktor pakaian dan alat-alat perhiasan. Allah  berfirman:

Artinya : ‘Hai anak Adam, Sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian takwa itulah yang paling baik.’ [Qs. al-A'raaf 26]

Pakaian dan perhiasan itu adalah dua aspek kemajuan dan per-adaban. Meninggalkan keduanya berarti kembali kepada kehidupan primitif yang mendekati kepada kehidupan hewani. Sedang hak milik wanita yang paling utama adalah kemuliaan, rasa malu, dan kehormatan diri. [Lihat Fiqhus Sunnah 2/209 oleh Sayyid Sabiq].

Pakaian dalam Islam bukanlah hanya sekedar hiasan yang menempel di tubuh, tetapi pakaian yang menutup aurat. Dengannya Islam mewajibkan setiap wanita dan pria menutupi anggota tubuhnya yang menarik perhatian lawan jenisnya.

Masalah berhijab (yaitu berbusana muslimah yang menutupi seluruh bagian tubuh dari kepala hingga telapak kaki) bagi wanita muslimah bukanlah masalah sepele lagi sederhana sebagaimana yang banyak disangkakan oleh masyarakat awam, melainkan masalah besar dan substansial dalam agama ini.

Ber-hijab (berjilbab) bukanlah sisa peninggalan adat atau kebiasaan wanita Arab, sehingga wanita non-Arab (wanita Indonesia) tidak perlu menirunya, begitu juga ia bukanlah masalah khilafiah, diperselisihkan ada tidaknya berhijab itu sehingga wanita muslimah bebas mengenakannya atau tidak, tetapi hijab adalah suatu hukum yang tegas dan pasti yang seluruh wanita muslimah diwajibkan oleh Allah  untuk mengenakannya.

Allah  berfirman :

Artinya : ‘Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ [Qs. al-Ahzab : 59].

 

 

Allah  berfirman :

Artinya: ‘Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ….’ [Qs. an-Nûr : 31].

 

Dua ayat di atas telah memberikan batasan yang  jelas tentang pakaian yang harus dikenakan

oleh wanita muslimah, yaitu wajib menutup seluruh tubuhnya kecuali apa yang dikecuali oleh syariat (yang dimaksud dalam hal ini adalah wajah dan dua telapak tangan dan ini diperselisihkan oleh ulama). Ketetapan syari’at ini tidak lain adalah untuk melindungi, menjaga, serta membentengi wanita dari laki-laki yang bukan mahramnya.

 

BERHIJAB ADALAH IBADAH

 

Ber-hijab adalah ibadah, dengan ber-hijab berarti sang wanita telah telah melaksanakan perintah Allah. Melaksanakan perintah ber-hijab sama dengan melaksanakan perintah shalat dan puasa.

Barangsiapa yang mengingkari kewajiban ber-hijab dengan secara menentang berarti mengkufuri perintah  Allah  yang dapat dikategorikan sebagai murtad dari Islam. Tetapi jika ia tidak ber-hijab lantaran semata-mata mengikuti situasi masyarakat yang telah rusak – dengan tetap yakin akan wajibnya – maka ia dianggap sebagai wanita yang mendurhakai dan menyalahi perintah Allah  yang telah berfirman dalam al-Qur’an :

Artinya : ‘…. dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu …’ [Qs. al-Ahzab : 33].

 

BELUM MANTAP BERHIJAB

 

Karena ber-hijab adalah kewajiban dari Allah, maka tidak dibenarkan seorang wanita muslimah menyatakan dirinya tidak mantap atau belum siap ber-hijab. Karena sikap ini berarti mengambil sebagian perintah Allah  dan mencampakkan yang lainnya. Padahal Allah  berfirman :

 

 

Artinya : ‘Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya. Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata [Qs.Al-Ahzab: 36]

KESIMPULAN

 

1.       Ber-hijab (berjilbab) itu wajib bagi seluruh wanita muslimah.

2.       Ber-hijab yang memenuhi syarat adalah apabila hijab tersebut menutupi seluruh tubuh melainkan kecuali apa yang dikecuali oleh syariat (dan akan datang penjelasan secara lengkap tentang busana muslimah yang sesuai dengan agama).


Waktu Bagi Ibnul A’qil

Sesungguhnya aku tidak menghalalkan diriku menyia-nyiakan suatu saat pun dari usiaku. Manakala lisanku enggan melakukan diskusi atau dialog ilmiah, dan mataku malas membaca, maka aku tetap mengaktifkan pikiranku sekalipun tubuhku istirahat terlentang. [Dzailu Thabaqatul Hanabilah 1/146]

Agar Anak Anda Tidak Merokok

  • Waspadalah membiarkan anak anda jalan-jalan bersama kawan-kawan dan teman sekolahnya tanpa pengawasan anda.
  • Upayakan anak anda cukup dengan satu teman untuk belajar dan mengulang pelajaran. Hendaknya teman ini dari yang dikenal istiqomah diantara yang anda kenal dan percayai dari mereka.
  • Jangan biarkan anak anda mengulang pelajaran atau belajar jauh dari penglihatan anda atau penglihatan ibunya.
  • Jangan biarkan banyak uang berada di tangan anak anda. Uang lebih terkadang bisa mendorong  untuk beli rokok karena kebanyakan. Sebagai ganti uang cukupilah apa yang dibutuhkannya berupa makanan, minuman, kue dan lainnya.
  • Jika anda punya kawan perokok maka jangan bolehkan dia merokok di rumah anda. Dan jika memang anda tidak mampu, maka laranglah anak anda masuk kepada anda berdua.
  • Waspadailah anak anda keluar ke tempat-tempat yang jauh dari rumah dengan ditemani kawan-kawannya sekalipun anda percaya kepada mereka.

Hati-hatilah wahai para orang tua/wali sesungguhnya merokok pada usia kecil akan susah meninggalkannya. Kebiasaan buruk ini terkadang bisa terus melekat pada orangnya sepanjang hidupnya jika Allah tidak mengasihi dan menunjukinya.

 

Sumber Tulisan:

  1. Akhirnya Saya Berhasil Mematikan Rokok [Edisi Terjemah] oleh Ahmad Salim Ba Dulan.
  2. Maaf, Dilarang Merokok [Edisi Terjemah] oleh Thalal Bin Sa’ad Al-‘Utaibi.
  3. Majalah At-Tauhid Edisi 2 Shafar 1421 H.

Dukun tidak tahu Ilmu dan alam ghaib

Soal:
Umumnya para dukun yang kami ketahui, mereka mampu mengetahui kejadian-kejadian yang akan datang (seperti siapa yang bakal keluar menjadi kepala desa, membongkar pelaku pencurian, serta kejadian-kejadian lain yang bakal menimpa). Pertanyaannya, apa benar dukun-dukun dan para tukang ramal itu mengetahui ilmu ghaib? Bagaimana pandangan syariat terhadap ilmu yang dimiliki dukun tersebut, dan bagaimana pula hokum mendatangi dukun? (Hamba Allah).

Jawab:
Kami katakan kepada para dukun dan pada setiap orang yang mengaku mampu mengetahui ilmu ghaib, “Cis, sekali-sekali kamu tidak akan melampaui batas kemampuanmua sendiri!” (Ini adalah ucapan Nabi SAW kepada Ibnu Shayyad Al-Yahudi yang mengaku dirinya pandai meramal dan mengaku sebagai seorang Nabi, Lihat HR. Al-Bukhari 1355).
Dan kami katakan kepada setiap orang yang lemah imannya, yang mengadukan urusannya kepada dukun dan tukang ramal, yang tertipu dengan ungkapan dusta keduanya, “Bukalah mata dan pendengaranmu baik-baik, bahwa tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi ini yang mengetahui perkara ghaib melainkan Allah semata”

Ilmu Ghaib Hanya Untuk Allah
Ilmu Ghaib hanya milik Allah. Malaikat, Jin, Nabi dan para wali-wali Allah tidak mengetahui Ilmu Ghaib. Allah berfirman:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Artinya: “Katakanlah: tidak ada seoragpun dilangit dan dibumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml 65).

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدً إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

Namun terkadang, Allah memperlihatkan apa yang dikehendaki-Nya untuk suatu hikmah dan kemaslahatan. (QS. Al-Jin 26-27).

Malaikat Tidak Mengetahui Yang Ghaib

Malaikat tidak mengetahui yang ghaib, dalil yang menunjukkan demikian adalah firman Allah, (Artinya: “Dan Dia (Allah) mengajarkan Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman; ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang benar’, Mereka (para malaikat) menjawab; ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau telah ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (Al-Baqarah 31-32).
Jika para malaikat tahu ilmu ghaib, maka pastilah mereka bisa menjawab benda-benda yang Allah perintah kepada mereka untuk menyebutnya.

Jin Tidak Mengetahui Yang Ghaib

Jin tidak mengetahui yang ghaib, dengan dalil ketidakmampuan jin mengetahui kematian nabi Sulaiman. Allah berfirman:
Artinya: “Maka tatkala kami telah menetapkan kepada mereka (para jin) kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur, tahulah jin itu, bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”.
Para jin pernah bekerja untuk Nabi Sulaiman. Dimana mereka membuat apa saja yang dikehendaki oleh Sulaiman berupa gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besar seperti kolam, dll. Pernah para jin itu bekerja langsung dibawah pengawasan Nabi Sulaiman dimana ketika itu beliau bersandar pada tongkatnya. Ketika dalam pengawasan itu (dalam keadaan berdiri sambil bersandar pada tongkatnya) Allah mencabut ruh Nabi Sulaiman. Para Jin tidak mengetahui akan kematian Nabi Sulaiman, mereka tetap bekerja keras tanpa mengenal istirahat lantaran takut dengan Nabi Sulaiman. Hingga kemudian Allah mengutus rayap-rayap untuk memakan tongkat Sulaiman. Ketika Nabi Sulaiman tersungkur, barulah jin-jin itu tahu bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal.

Nabi Tidak Mengetahui Yang Ghaib:
Para Nabi tidak mengetahui yang ghaib. Malaikat pernah mendatangi Nabi Ibrahim dan Nabi Luth dalam bentuk manusia. Kedua Nabi tersebut tidak mengetahui bahwa yang datang itu adalah malaikat. Adapun Ibrahim, ketika menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang kepada tamunya dan tamu tersebut tidak mau menyentuh sedikitpun dari makanan itu, maka muncullah rasa takut Nabi Ibrahim. Lalu tamu (malaikat) itu berkata, “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” (QS. Hud 70).

Sedang Luth ketika didatangi oleh kaumnya dan mereka menghendaki para tamu yang ada dirumah Luth. Luth berkata kepada kaumnya, “Seandainya aku ada kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan). Lalu tamu-tamu itu berkata, ‘Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu (malaikat). Sekali-sekali mereka tidak dapat mengganggumu’.” (QS. Hud 80-81).
Andai para Nabi itu mengetahui yang ghaib, tentulah mereka mengenal siapa jati diri tamu itu sebenarnya, yaitu malaikat.

Para Wali Tidak Mengetahui Yang Ghaib
Para wali tidak mengetahui yang ghaib. Aisyah dan ayahnya, Abu Bakar Ra. adalah seutama-utama wali Allah. Namun ketika terjadi fitnah perselingkuhan yang menimpa ‘Aisyah atau dikenal dengan ‘Haditsul Ifki’, Aisyah tidak tahu menahu tentang desas-desus berita tersebut hingga diberitahukan oleh Ummu Misthah. Begitu juga Abu Bakar, ia tidak dapat mengetahui duduk permasalahan yang sebenarnya sehingga turun wahyu kepada Rasulullah SAW mengenai pembebasan Aisyah dari tuduhan yang mengada-ada itu.

Dukun Tahu Yang Ghaib
Dibumi manakah dukun itu berpijak dan langit apakah yang menaunginya atau dari jenis golongan apakah dukun itu, hingga ia mengakui dan didaulat oleh orang-orang yang lemah iman bahwa ia mengetahui yang ghaib?! Jika bahan dasarnya tercipta dari tanah, maka makhluk yang mencapai tingkat predikat ‘Nabi’ pun tidak mengetahui yang ghaib. Jika bahan dasarnya dari api, maka makhluk sejahat iblis (syaithan) pun tidak mengetahui yang ghaib, dan jika bahan dasarnya dari cahaya maka makhluk Allah yang bernama malaikat juga tidak mengetahui yang ghaib.
Dukun hanyalah seorang pembual, menipu orang-orang dengan tipu daya dan permainan sihirnya, ia sering bersumpah dengan kebodohan. Jikapun mulutnya berkomat-kamit membaca Al-Qur’an atau ragam sholawatan maka ia hanya berpura-pura untuk lebih meyakinkan para mangsanya.

Ucapannya Terkadang Benar?
Tidak perlu heran dengan keterangan para dukun dan tukang ramal yang terkadang perkataannya berbetulan dengan kenyataan, karena pengakuan mereka tentang yang ghaib, merupakan bisikan syaithan. Kesemuanya itu didapatkan melalui permohonan bantuan setan-setan yang mencuri dengar dari langit. Mereka mencuri kalimat dari ucapan Malaikat, lalu disampaikan ketelinga dukun, dan dukun tersebut berbohong dari kalimat (yang diterimanya itu) dengan seratus kali kebohongan. Lalu orang-orang mempercayainya disebabkan oleh satu kalimat yang benar tersebut yang didengar oleh setan dari langit. Karenanya, dukun dan tukang ramal seringkali memberikan keterangan yang sulit dimengerti, tidak jelas dan banyak mengandung kemungkinan.

Haram Mendatangi Dukun Dan Tukang Ramal

Rasulullah SAW melarang keras mendatangi dukun dan tukang ramal. Rasulullah SAW bersabda tentang orang yang mendatangi dukun:

Artinya: ‘Barangsiapa yang mendatangi dukun dan mempercai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya ia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad SAW’. (Shahih. HR. Abu Dawud 4904, An-Nasai dalam Al-Kubra, At-Tirmidzi 135, Ibnu Majah 639 dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Al-Irwa’ 2006).
Sedang bahaya mendatangi tukang ramal, adalah sabda Rasulullah SAW:
‘Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya sesuatu kepadanya, maka tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari’. (HR. Muslim 2230).

Mencabut Uban

Rambut putih [uban] laksana cahaya, kewibawaan, kesantunan, dan keteguhan. Kegemaran mencabut uban berarti ketidak- sukaan memperoleh pahala, baik itu ada di rambut kepala, di jenggot, maupun di bulu pipi. Karena alasan itu, mencabut uban dilarang di dalam syariat. Ibnul Arabi mengatakan, ‘Yang dilarang hanyalah mencabut uban, bukan mewarnainya. Sebab, pada tindakan mencabut uban tersebut mengandung unsur pengubahan ciptaan Allah Ta’ala dari aslinya. Sementara mewarnainya bukan termasuk tindakan mengubah ciptaan dalam pandangan orang.’

Mayoritas ulama – di antaranya Imam empat madzhab – memakruhkan mencabut uban. Ketika mengambil keputusan itu mereka berlandaskan pada beberapa riwayat, di antaranya :

Dari Ka’ab bin Ujarah ia berkata, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

‘Barangsiapa tumbuh uban di dalam keadaan memeluk Islam, maka kelak uban akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.’

[Hasan. HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai]

Dari Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Salllam bersabda, ‘Janganlah kalian mencabut uban, karena uban itu adalah cahaya bagi seorang muslim pada hari kiamat.’

[Hasan. HR. Abu Dawud 4202, At-Tirmidzi 2821]

Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata,

‘Kami tidak suka seseorang mencabuti rambut putih dari kepala dan jenggotnya.’

[HR. Muslim 2341]

Yang dilarang adalah mencabut , adapun mencukur uban yang di kepala maka hal itu diperbolehkan. Sedang yang dijenggot dan yang dipipi tidak diperbolehkan.

Perayaan 1 Muharram (Tahun Baru Islam?)

Soal:
Insya Allah, hari Kamis nanti kita kita telah masuk pada tanggal 1 Muharram atau tahun baru Islam. Daan bahwa dapat dipastikan awal tahun tersebut akan dimeriahkan dengan beragam acara keagamaan dan hiburan (pawai, gerak jalan, dll) oleh berbagai organisasi keIslaman. Pertanyaannya, apakah benar ada perayaan tahun baru (Muharram) dalam Islam? Jika kita memeriahkan acara tersebut dengan tujuan muhasabah (intropeksi) dan sebagai bentuk syiar keIslaman, apakah dianjurkan? (Hamba Allah).

Jawab:
Kekeliruan besar yang banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi yang berkecimpung dalam medan dakwah saat ini, adalah mentarbiyah (mendidik) para pengikut-pengikutnya diatas pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama yang hanif ini. Bahkan tidak jarang dengan pemahaman yang bertentangan dengan maksud dan tujuan dari agama itu sendiri.

Sebutlah diantara beberapa pemahaman atau pentarbiyahan yang keliru tersebut:

1. Memandang rendah urusan-urusan yang berkaitan dengan aqidah.

2. Menanamkan budaya taklid dan ta’assub terhadap satu mazhab dari mazhab-mazhab yang ada.

3. Mendahulukan ra’yu (akal) dan qiyas (Analogi) yang rusak dari nash-nash yang jelas lagi shahih.

4. Menghalalkan segala wasilah/perantara (termasuk wasilah bid’ah) untuk mencapai tujuan yang masyru’.

Perayaan satu Muharram (tahun baru hijriah) adalah salah satu buah dari pemahaman keliru tersebut. Dalam Islam, perayaan awal tahun Hijriyah (termasuk perayaan Milad, baik itu Milad untuk nabi, wali, organisasi atau milad-milad lainnya) adalah bid’ah yang tidak pernah diamalkan dan diajarkan oleh Rasul Saw kepada para pengikut-pengikutnya. Padahal Rasul Saw bersabda:

Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddun

Artinya: Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami, maka akan ditolak. (HR. Bukhari 2697, Muslim 12/16).

Rasul Saw bersabda:

wa iyyakum wa muhdatsatil umuri fa in kullu muhdatsatin bidhah. wa kulla bidh’atin dholalah

Artinya: Dan jauhilah perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Perayaan awal tahun baru hijriah bukan sekedar tidak memiliki sandaran dalil, tetapi lebih dari itu, ia adalah perbuatan tasyabbuh (menyerupai atau meniru-niru) kepada syiar agama nashrani yaitu perayaan tahun baru masehi. Padahal Rasul Saw bersabda:

Man tashabbaha biqaumin fahuwa minhum.

Artinya: Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, mak ia adalah bagian dari mereka. (HR. Ahmad 2/50, Abu Dawud 4/314. Sanadnya dianggap jayyid (baik) oleh Ibnu Taimiyyah dan dishahihkan oleh Al-Bani dalam Shahihul Jami’ 6149).

Ibnu Taimiyah berkata: “Nabi Saw mempunyai khutbah-khutbah, perjanjian-perjanjian,peristiwa-peristiwa dihari yang sangat banyak, seperti hari perang Badar, perang Hunain, perang Khandaq, Fathu Makkah, hijrahnya beliau memasuki kota Madinah, dan ceramah-ceramah beliau yang berisi penjelasan tentang pondasi-pondasi agama. Tapi semuanya tidak menyebabkan hari-hari itu sebagai ied (perayaan), dan hal semacam ini (menjadikan kejadian-kejadian tertentu sebagai perayaan) hanya dilakukan oleh orang-orang Nasrani yang menjadikan hari-hari yang dilalui Isa As sebagai perayaan, atau orang-orang Yahudi. Ied (perayaan) adalah syariat. Maka apa yang disyariatkan oleh Allah adalah mesti diikuti dan jika tidak disyariatkan, maka tidak boleh mengada-ada didalam agama ini”. (Lihat Iqtidla Ash-Shiratal Mustaqim 2/614-615).

Perayaan Tahun Baru Hijriah Dalam Rangka Muhasabah diri (Intropeksi diri) atau Sebagai Wasilah (sarana) Syiar Islam

Adapun merayakan tahun baru dengan tujuan muhasabah dan sebagai sarana syiar Islam adalah sama terlarangnya dengan perayaan tahun baru itu sendiri. Karena telah melakukan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Swt dengan wasilah yang bid’ah. Allah Swt berfirman:

Artinya: Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan oleh Allah?. (QS. 26;21).

Ibnu Mas’ud Ra ketika melihat orang-orang di masjid bertasbih, bertakbir dan bertahlil dengan menggunakan kerikil-kerikil kecil dan mereka berhujjah bahwa mereka tidak menginginkan kecuali kebaikan. Ia berkata: “Betapa banyak peminat kebaikan tetapi ia tidak mendapatkannya”.

Muhasabah tidak memiliki waktu yang terbatas atau waktu-waktu tertentu, muhasabah terbatas atau waktu-waktu tertentu, muhasbah ada disetiap waktu dari kehidupan muslim. Justru muhasabah, kata ulama-ulama adalah “lebih tepat dilakukan ketika ia berada seorang diri dibanding ditempat-tempat keramaian”. Imam Mawardi Ra berkata tentang muhasabah diri: “Hendaklah dimalam hari ia memikirkan atau mengoreksi amalan-amalan yang dilakukannya di siang hari, karena pada waktu malam lebih banyak menimbulkan lintasan-lintasan pemikiran dan lebih banyak menghimpun daya pikir”.

Tidak berbeda dengan Imam Mawardi, Ibnu Qayyim menasehatkan hal serupa: “Diantara muhasabah yang paling bermanfaat adalah seseorang yang hendak tidur barang sejam sebelumnya memuhasabah dirinya terhadap kerugian dan keuntungan yang ia dapatkan dalam sehariannya”. (lihat Ar-Ruh 79).

Kesimpulan

Perayaan 1 Muharram atau perayaan tahun baru hijriah bukan dari ajaran Islam. Dan hendaknya setiap muslim menjauh dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Wallahu ‘Alam…

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Soal: Beberapa kelompok di daerah kami saling mengklaim bahwa kelompok merekalah yang paling ‘Ahlus Sunnah Wal Jama’ah’. Apakah hakikat yang sebenarnya dari ‘Ahlussunnah Wal Jamaah itu’? Mohon penjelasannya.  [Abdullah-Di Bumi Allah)

Jawab: Istilah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan frase [gabungan kata] yang terdiri dari tiga kata utama, yaitu ahlu, sunnah dan jama’ah. Ahlu artinya pengikut. Ahlussunnah berarti pengikut sunnah, sementara ahluljamaah berarti pengikut jama’ah. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan ahlussunnah dan ahlul jama’ah menurut tinjauan syari’at.

Pertama: Ahlussunnah

Secara bahasa kata As-Sunnah berarti sejarah [perjalanan hidup] dan jalan [metode] yang ditempuh. Ibnul Atsir dalam An-Nihâyah 2/223 berkata, ‘Dalam hadits berulang kali disebutkan kata as-sunnah dan

adalah para shahabat Radhiyallahu Anhum dan setiap orang yang menempuh jalan mereka dari kalangan tabi’in, lalu para ulama hadits, ulama fiqih dari satu generasi ke generasi selanjutnya sampai hari ini dan juga masyarakat secara umum yang mengikuti mereka, baik di belahan bumi barat maupun timur.’

KEDUA: AL-JAMA’AH

Secara bahasa ‘Jama’ah’ berarti kelompok dan bersatu; lawan katanya [antonimnya] adalah berpecah belah. Dalam hadits, banyak sekali disebutkan perintah untuk berjamaah dan larangan untuk berpecah belah, diantara hadits tersebut adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ‘…Sesungguhnya umat Islam ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu yaitu Al Jama’ah.’ [HR Ahmad 4/102, Abu Dawud 5/4597]

Adapun definisi Jama’ah menurut ulama ‘aqidah adalah generasi pertama dari ummat ini, yaitu kalangan shahabat, tabi’in serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran.’

Allamah Abdurrahman bin Ismail yang populer dengan panggilan Abu Syamah berkata, ‘Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan sunnah itu sedikit dan yang menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu adalah apa yang dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat beliau Radhiyallahu Anhum. Tanpa melihat banyaknya pengikut kebathilan setelah mereka.’

Imam Asy-Syathibi Rahimahullah dalam ‘Al-I’tishâm 1/449’ berkata, ‘Sudah jelas bahwa jamaah dengan makna ini tidak mensyaratkan banyak sedikitnya pengikut, tapi yang disyaratkan adalah kesesuaiannya dengan kebenaran sekalipun diselisihi oleh mayoritas umat manusia.’

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ‘Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.’

DEFINISI AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah generasi shahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan seluruh ummat Islam yang mendasarkan hidupnya pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman generasi shahabat serta menjadikan keduanya sebagai pedoman hidup. Mereka menjauhi perkara-perkara yang baru dan bid’ah dalam agama. Standar kebenaran mereka adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijmâk yang merupakan kesepakatan para shahabat dan juga ulama mujtahidin yang terpercaya sesudah mereka.

KESIMPULAN

Dari sini jelaslah bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah adalah setiap muslim yang mengikuti jejak para sahabat. Ahlussunnah bukan monopoli golongan tertentu. Tidak benar jika sebagian kelompok umat Islam menganggap dirinya satu-satunya Ahlussunnah sementara kelompok lainnya bukan Ahlussunnah. Ahlussunnah juga bukan sekedar nama, tetapi lebih dari itu ia merupakan manhaj, jalan hidup para sahabat yang harus dipraktikkan. Ukuran apakah seseorang termasuk Ahlussunnah atau tidak? Jawabnya bahwa tidak setiap orang yang mengklaim dirinya atau kelompoknya atau organisasinya atau jama’ahnya sebagai Ahlussunnah, itu benar-benar Ahlussunnah. Karena terkadang mereka menamakan dirinya Ahlussunnah tetapi dalam amalannya mereka tidak sesuai dengan AlQur’an dan as Sunnah. Namun jika jalan hidup mereka sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat, maka mereka itulah Ahlussunnah wal Jama’ah yang sebenarnya. Wallahu A’lam.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.